Minggu, 27 Maret 2016

SILATURAHMI SAMBIL BELAJAR.
By Arif Bulan
Silaturahmi merupakan hal baik yang perlu dilakukan oleh siapapun. Silaturahmi pada dasarnya untuk mempererat tali kekeluargaan. namun disisi lain, silaturahmi membuka peluang masuknya ilmu dan pengetahuan baru. Ilmu dan penetahuan bisa didapatkan melalui berguru dan otodidak. Berguru bukan hanya saja  pada lingkungan formal, tetapi pada lingkungan informal, seperti duduk sambil berdiskusi dengan siapapun yang mungkin ada ilmu yang kita petik sambari duduk itu.
Sebenarnya, kapanpun kita bisa melakukan silaturahmi. Silaturahmi tidak perlu formal, seperti forum silaturahmi dan lain-lainya. Yang intinya bahwa silaturahmi itu harus  dengan orang yang telah dikenal. Disinilah letak manfaat silaturahmi tersebut. Terkadang kita tidak bisa meresapi manfaat dari silaturahmi yang dilakukan.
Sepertinya tulisan ini agak resmi, tapi penulis mencoba mengemas tulisan ini agar enjoy dibaca, namanya saja silaturahmi sambil belajar, ya kita sambil belajar saja yah membaca tulisan ringan ini.   
Well, saya rasa sangat perlu belajar pada siapapun dan di manapun. Salah saya metode belajar informal menurut saya adalah melalui metode silturahim. Silaturahim tentu ada komunikasi di dalamnya. Silaturahmi bisa perorangan dan kelompok. Silaturahmi bisa menjadi salah satu wahana mendengar informasi yang bermanfaat dari lawan wicara. Kata Om Bob Sadino, jadi orang itu jangan terlalu banyak bicara dan ingin selalu didengar, tapi sesekali kita harus menjadi pendengar, agar yang baik-baik menjadi ilmu dan pengetahuan buat kita.
Hari untuk bersilaturahmi itu bisa hari apa saja, namun kusus mahasiswa nih, bagusnya hari minggu dijadiakan hari kusus program silaturahmi. Seperti pengalaman penulis, biasanya penulis mengisi hari minggu dengan hal-hal positif seperti silaturahmi. Penulis biasanya mengunjungi para sesepuh satu kampong yang merantau dan sudah sukses di jogyakarta dan juga silaturahmi ke rumah-rumah dosen. Saat tulisan ini published, baru saja penulis bersilaturahmi dengan salah satu sesepuh dari Bima yang sudah lama menetap di Yogyakarta.
Minggu ini satu sesepuh yang penulis kunjungi, nama nyentrik beliau adalah Nasrulah Ompu Bana, beliau merupakan CEO Genta Publishing Yogyakarta.  penulis tidak akan bicara banyak tentang hal-hal apasaja yang diperoleh dari silaturahmi tadi. Coba bayangkan deh,   jika tiap minggu kita melakukan silaturahmi, sudah berapa banyak keluarga baru kita? Pastinya keluarga baru sangat bermanfaat loh!. Lewat tulisan ini, penulis ingin mengajak kita semua, yuk kita bersilaturahmi. Temukan manfaat dan sensasinya.


Sabtu, 05 Maret 2016

Rimpu Mbojo: sebuah identitas kultural yang mulai terlupakan
Oleh: Arif Bulan
Rimpu merupakan salah satu pakaian sar’i kaum hawa dalam masyarakat Bima dan Dompu. Rimpu dipakai oleh kaum hawa tua atau muda saat hendak keluar dari rumah, saat pergi ke pasar, ke rumah keluarga maupun ke tempat umum.
Rimpu bisa diartikan sebagai penutup aurat bagi perempuan, di mana seluruh anggota tubuh harus dibalut dengan sarung khas mbojo. namun dalam perkembanganya, rimpu tidak lagi menjadi tren atau mode baru dalam dunia fashion masyarakat Mbojo saat ini. Jika kita melihat fungsi dari rimpu adalah untuk menutup aurat maka, tidaklah beda dengan apa yang kita kenal dengan hijab/jilbab.
Zaman memang sudah berubah, rimpu sudah lagi tidak “ngetren”, tapi setidaknya budaya rimpu tidak harus ditinggalkan. Dari beberpa pengamatan penulis, hampir seluruh anak remaja usia sekolah menengah atas dan perguruan tinggi di kecamatan Sape, Lambu, Sila dan Bolo sudah tidak mengenakan rimpu dalam masyarakat. Ini menandakan bahwa tradisi rimpu sudah mulai dilupakan oleh masyrakat mbojo.
Rimpu cenderung dianggap kolot dan kampungan bagi pemakainya. saat ini rimpu hanya dipakai oleh sebagian ibu-ibu yang umurnya hamper 40-50tahun. Sebuah apresiasi yang perlu diberikan karena mereka masih menjaga nilai kearifan lokal yang ditinggalkan oleh para leluhur.
Rimpu sudah bergeser pada jilbab yang nota bene itu adalah bukan kebudayaan asli Indonesia. Dalam funsinya, rimpu dan jilbap hamper mirip yaitu sebagai alat untuk menutup aurat, namun ada yang berbeda dengan rimpu, rimpu juga menggambarkan identitas pemakainya. model pemakaian rimpu ada dua, yaitu rimpu mpida dan rimpu colo. Rimpu mpida memberikan gambaran bahwa perempuan tersebut adalah masih lajang. Sedangkan rimpu colo memberikan gambaran bahwa wanita tersebut telah menikah. 
Cirri-ciri rimpu colo adalah, bagian depan wajah kelihatan, mulai dari bibir sampai dahi, sedangkan rimpu mpida memilki cirri, hanya kedua bola mata yang terlihat. Ada kode non-linguistik  yang terjadi dalam tradisi rimpu colo maupun rimpu mpida tersebut. Seorang  laki-lak,i tidak perlu lagi menanyakan status pemakai rimpu tersebut, kode yang diberikan cukup melihat cara pemakaian rimpu saja, apakah rimpu tersebut rimpu cola atau rimpu mpida.
Dalam satu sumber yang pernah penulis baca bahwa, seorang laki-laki bisa melihat kecantikan wanita tersebut adalah dari bagus dan tidaknya motif dan penjahitan sarung yang dipakai untuk rimpu tersebut. Wanita  dalam hal rimpu berlomba-lomba untuk menunjukan bahwa inilah hasil karya saya. Bahwa pada jaman dulu dalam sejarah mbojo, wanita harus bisa menenun, sehingga tembe rimpu yang dipakai itu adalah hasil karya mereka dan tembe rimpu itulah yag menjadi media mereka menunjukan diri mereka. Berbeda dengan pemandangan jaman sekarang, aktualisasi kecantikan diri cenderung diperlihatkan dari terbukanya pakaian yang dikenakan. 

Semoga bermanfaat untuk kita.