Rimpu Mbojo: sebuah identitas kultural yang mulai terlupakan
Oleh: Arif Bulan
Rimpu merupakan salah satu
pakaian sar’i kaum hawa dalam masyarakat Bima dan Dompu. Rimpu dipakai oleh
kaum hawa tua atau muda saat hendak keluar dari rumah, saat pergi ke pasar, ke
rumah keluarga maupun ke tempat umum.
Rimpu bisa diartikan sebagai penutup
aurat bagi perempuan, di mana seluruh anggota tubuh harus dibalut dengan sarung
khas mbojo. namun dalam perkembanganya, rimpu tidak lagi menjadi tren atau mode
baru dalam dunia fashion masyarakat
Mbojo saat ini. Jika kita melihat fungsi dari rimpu adalah untuk menutup aurat
maka, tidaklah beda dengan apa yang kita kenal dengan hijab/jilbab.
Zaman memang sudah berubah, rimpu
sudah lagi tidak “ngetren”, tapi setidaknya budaya rimpu tidak harus
ditinggalkan. Dari beberpa pengamatan penulis, hampir seluruh anak remaja usia
sekolah menengah atas dan perguruan tinggi di kecamatan Sape, Lambu, Sila dan
Bolo sudah tidak mengenakan rimpu dalam masyarakat. Ini menandakan bahwa
tradisi rimpu sudah mulai dilupakan oleh masyrakat mbojo.
Rimpu cenderung dianggap kolot
dan kampungan bagi pemakainya. saat ini rimpu hanya dipakai oleh sebagian
ibu-ibu yang umurnya hamper 40-50tahun. Sebuah apresiasi yang perlu diberikan
karena mereka masih menjaga nilai kearifan lokal yang ditinggalkan oleh para
leluhur.
Rimpu sudah bergeser pada jilbab
yang nota bene itu adalah bukan kebudayaan asli Indonesia. Dalam funsinya,
rimpu dan jilbap hamper mirip yaitu sebagai alat untuk menutup aurat, namun ada
yang berbeda dengan rimpu, rimpu juga menggambarkan identitas pemakainya. model
pemakaian rimpu ada dua, yaitu rimpu mpida dan rimpu colo. Rimpu mpida
memberikan gambaran bahwa perempuan tersebut adalah masih lajang. Sedangkan
rimpu colo memberikan gambaran bahwa wanita tersebut telah menikah.
Cirri-ciri rimpu colo adalah,
bagian depan wajah kelihatan, mulai dari bibir sampai dahi, sedangkan rimpu
mpida memilki cirri, hanya kedua bola mata yang terlihat. Ada kode
non-linguistik yang terjadi dalam
tradisi rimpu colo maupun rimpu mpida tersebut. Seorang laki-lak,i tidak perlu lagi menanyakan status
pemakai rimpu tersebut, kode yang diberikan cukup melihat cara pemakaian rimpu
saja, apakah rimpu tersebut rimpu cola atau rimpu mpida.
Dalam satu sumber yang pernah penulis
baca bahwa, seorang laki-laki bisa melihat kecantikan wanita tersebut adalah
dari bagus dan tidaknya motif dan penjahitan sarung yang dipakai untuk rimpu
tersebut. Wanita dalam hal rimpu
berlomba-lomba untuk menunjukan bahwa inilah hasil karya saya. Bahwa pada jaman
dulu dalam sejarah mbojo, wanita harus bisa menenun, sehingga tembe rimpu yang
dipakai itu adalah hasil karya mereka dan tembe rimpu itulah yag menjadi media
mereka menunjukan diri mereka. Berbeda dengan pemandangan jaman sekarang, aktualisasi
kecantikan diri cenderung diperlihatkan dari terbukanya pakaian yang
dikenakan.
Semoga bermanfaat untuk kita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar