Sabtu, 05 Maret 2016

Rimpu Mbojo: sebuah identitas kultural yang mulai terlupakan
Oleh: Arif Bulan
Rimpu merupakan salah satu pakaian sar’i kaum hawa dalam masyarakat Bima dan Dompu. Rimpu dipakai oleh kaum hawa tua atau muda saat hendak keluar dari rumah, saat pergi ke pasar, ke rumah keluarga maupun ke tempat umum.
Rimpu bisa diartikan sebagai penutup aurat bagi perempuan, di mana seluruh anggota tubuh harus dibalut dengan sarung khas mbojo. namun dalam perkembanganya, rimpu tidak lagi menjadi tren atau mode baru dalam dunia fashion masyarakat Mbojo saat ini. Jika kita melihat fungsi dari rimpu adalah untuk menutup aurat maka, tidaklah beda dengan apa yang kita kenal dengan hijab/jilbab.
Zaman memang sudah berubah, rimpu sudah lagi tidak “ngetren”, tapi setidaknya budaya rimpu tidak harus ditinggalkan. Dari beberpa pengamatan penulis, hampir seluruh anak remaja usia sekolah menengah atas dan perguruan tinggi di kecamatan Sape, Lambu, Sila dan Bolo sudah tidak mengenakan rimpu dalam masyarakat. Ini menandakan bahwa tradisi rimpu sudah mulai dilupakan oleh masyrakat mbojo.
Rimpu cenderung dianggap kolot dan kampungan bagi pemakainya. saat ini rimpu hanya dipakai oleh sebagian ibu-ibu yang umurnya hamper 40-50tahun. Sebuah apresiasi yang perlu diberikan karena mereka masih menjaga nilai kearifan lokal yang ditinggalkan oleh para leluhur.
Rimpu sudah bergeser pada jilbab yang nota bene itu adalah bukan kebudayaan asli Indonesia. Dalam funsinya, rimpu dan jilbap hamper mirip yaitu sebagai alat untuk menutup aurat, namun ada yang berbeda dengan rimpu, rimpu juga menggambarkan identitas pemakainya. model pemakaian rimpu ada dua, yaitu rimpu mpida dan rimpu colo. Rimpu mpida memberikan gambaran bahwa perempuan tersebut adalah masih lajang. Sedangkan rimpu colo memberikan gambaran bahwa wanita tersebut telah menikah. 
Cirri-ciri rimpu colo adalah, bagian depan wajah kelihatan, mulai dari bibir sampai dahi, sedangkan rimpu mpida memilki cirri, hanya kedua bola mata yang terlihat. Ada kode non-linguistik  yang terjadi dalam tradisi rimpu colo maupun rimpu mpida tersebut. Seorang  laki-lak,i tidak perlu lagi menanyakan status pemakai rimpu tersebut, kode yang diberikan cukup melihat cara pemakaian rimpu saja, apakah rimpu tersebut rimpu cola atau rimpu mpida.
Dalam satu sumber yang pernah penulis baca bahwa, seorang laki-laki bisa melihat kecantikan wanita tersebut adalah dari bagus dan tidaknya motif dan penjahitan sarung yang dipakai untuk rimpu tersebut. Wanita  dalam hal rimpu berlomba-lomba untuk menunjukan bahwa inilah hasil karya saya. Bahwa pada jaman dulu dalam sejarah mbojo, wanita harus bisa menenun, sehingga tembe rimpu yang dipakai itu adalah hasil karya mereka dan tembe rimpu itulah yag menjadi media mereka menunjukan diri mereka. Berbeda dengan pemandangan jaman sekarang, aktualisasi kecantikan diri cenderung diperlihatkan dari terbukanya pakaian yang dikenakan. 

Semoga bermanfaat untuk kita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar