BAHASA
BIMA “KALEMBO ADE”: KAJIAN PRAGMATIK
Arif Bulan
Jurusan Linguistik Terapan Universitas Negeri
Yogyakarta
Email:
arifbulan1@gmail.com
Abstrak
Teori
pragmatik mengatakan bahwa mengkaji arti dan makna harus dilihat dari maksud,
tujuan dan konteks dimana bahasa itu diucapkan. Dalam mempelajari makna bahasa Bima
“kalembo ade” perlu dilihat dari berbagai aspek stilistika, affeksi dan tema,
sehingga arti dan makna “kalembo ade” dapat diresapi dan dipahami dari beberapa
sedut pandang. Tulisan ini mennggunakan pendekatan linguistik antropologis
untuk dapat memehami fenomena dan keunikan makna bahasa yang diucapkan pengguna
bahasa tersebut.
Kata kunci: Bahasa, Makna “kelembo ade”,
Pragmatik.
Pendahuluan.
Indonesia
adalah Negara yang kaya akan budaya dan bahasa. Indonesia sebagai Negara
kepulauan yang memiliki banyak daerah, tiap-tiap daerah memiliki bahasa
masing-masing. Bima adalah salah satu daerah kabupaten yang berada di pulau
Sumbawa provinsi Nusa Tenggara Barat. Bima mayoritas didiami suku mbojo, dan
bahasa yang digunakan adalah bahasa Bima (nggahi
mbojo) .
Dalam
bahasa Bima, ada satu ungkapan yang unik dan multi tafsir. Ungkapan
tersebut yaitu “kalembo ade”. Ungkapan
ini seperti yang disebutkan diatas adalah ungkapan yang multi tafsir, karena
ungkapan tersebut bisa digunakan dalam beberapa konteks yang berbeda dan setiap konteks yang
disebutkan memiliki makna yang berbeda, sehinnga ungkapan ini menurut penulis
masuk dalam ranah kajian pragmatik. Di mana kajian pragmatik itu sendiri
mengkaji masalah makna bahasa yang ditinjau dari konteks pembicaraan.
Ungkapan
“kalembo ade” bisa diartikan sebagai ungkapan terimakasih, ungkapan bela
sungkawa, ungkapan kesedihan, ungkapan menghormati, ungkapan menghargai dan
ungkapan saat perpisahan. Keunikan dalam makna pragmatik inilah kemudian
penulis mencoba untuk mengkaji dalam beberapa aspek. Aspek-aspek yang coba
disentuh oleh ungkapan “kalembo ade” antara lain, aspek stilistic meaning, affective meaning dan thematic meaning.
Bila
dilihat dari sudut pandang pragmatik,ungkapan “kalembo ade” ini bisa
menimbulkan hal ketaksaan, Sehingga masyarakat Bima pada umumnya menggunakan
ungkapan ini dalam berbagai konteks dan situasi dimana ungkapan itu diucapkan
dan dimana proses komunikasi itu terjadi. Ungkapan “kalembo ade” bisa
dipengaruhi beberapa situasi sehingga penggunaanya sangat beragam. Kalau
dilihat dari aspek formal dan nonformal ungkapan ini bisa mencul dimanapun.
Landasan
teori dan metode
Menurut
Subroto (2011: 1) bahasa merupakan pengetahuan yang tersimpan dari dalam dan
terstruktur, dan dikuasai serta digunakan dalam komunikasi secara umum. Dalam
bahasa tersimpan arti sebagai sistem tanda, kemudian dari tanda ini dipahami
sebuah bahasa dengan baik dan benar. Sebagai pengguna bahasa, kita secara bebas
memakai bahasa tersebut namun harus tetap mengikuti kaedah-kaedah yang berlaku
sehingga pahasa tersebut bisa dipahami, dala hal ini peran pendekata pragmatic
sangta dibutuhkan untuk mengetahui arti dan makna ungkapan atau bahasa yang
digunakan lawan tutur.
Mengkaji
masalah Arti dan makna dalam komunikasi harus mengikutsertakan beberapa
pendekatan atau aspek supaya maksud dari tuturan bisa mempunyai nilai dari sisi
pendengar atau lawan tutur. Seperti yang dikatakan Leech melalui Subroto (2011:
49-55) arti atau makna stilistik berkaitan dengan warna dialek geografis atau
warna dialek sosial penutur. Arti atau makna affektif berkaitan dengan perasaan
penuturnya, sedangkan arti atau makna tematik adalah bagaimana penutur
mengorganisasikan tuturanya.
Pragmatik
menurut Levinson melalui Clark (2009: 13) adalah ilmu yang mempelajari hubungan
antara bahasa dan konteks yang berdasarka
pada pemahaman bahasa. Sebenarnya kajian pragmatik tidak jauh berbeda dengan
kajian semantik karena keduanya mengkaji masalah arti dan makna, namun ada
hal-hal mendasar yang membedakan antara keduanya.
Semantik mengkaji arti lingual
yang yang tidak terikat konteks,
sedangkan pragmatik mengkaji arti dan makna berdasarkan konteks yang biasa
disebut “the speakers’s meaning” atau
arti menurut tafsiran penutur (Clark, 2009: 13).
Berbahasa sama halnya
dengan berkomunikasi, dimana proses komunikasi melibatkan dua orang atau lebih
dalam penggunaanya. Dalam bahasanya masyarakat Bima berkomunikasi dengan lawan
tuturnya menggunakan kaedah-kaedah bahasa pada umumnya, namun dalam hal
memaknai makna yang terkandung didalamnya perlu analisa dari lawan tutur,
walaupin kata-kata yang diucapkan cukup teratur.
Tidak
jauh berbeda dengan pandangan Clark mengenai pragmatik, Yule (1996: 5) pun
mengatakan bahwa pragmatik mempelajari tentang hubungan antara bentuk-bentuk
linguistik dan pemakai bentuk-bentuk itu. Mempelajari bahasa dan kajiannya
adalah sebuah keharusan dalam pendekatan pragmatik, jika tidak maka makna yang
terkandung dalam bahasa tersebut tidak bisa dimaknai secara sempurna. Manfaat
belajar bahasa melalui pragmatik ialah bahwa seseorang dapat bertutur kata
tentang makna yang dimaksudkan orang, asumsi mereka dan jenis-jenis tindakannya
(Yule, 2009: 5).
Pendekatan
yang digunakan dalam tulisan ini adalah pendekatan linguistik antropologis.Linguistik
Antropologis menafsirkan fenomena bahasa untuk mendapatkan pemahaman bahasa dan
budaya penuturnya (Foley, 1997: 3). Sebagai diketahui, dalam penelitian bahasa
terdapat dua pendekatan utama dalam melihat fenomena bahasa. Yang pertama,
melihat fenomena bahasa yang bersifat otonom atau terpisah dari hal lain di
luar bahasa. Pendekatan kedua melihat fenomena bahasa dalam kaitanya dengan hal
lain diluar bahasa (Suhandano 2015: 99).
Pembahasan.
Bahasa
“kalembo ade” dalam pandangan masyarakat Bima merupakan bahasa yang halus dalam
pemakaianya, untuk memahami maksud dan tujuan penutur menayampaikan ungkapan
“kelembo ade” adalah harus melihat konteks dalam pembicaraan. Contoh:
a. Saya
sedang menghadapi masalah finansial karena ayah sudah tidak bekerja lagi.
b. Saya
pamit dulu ya paman! doakan semoga saya menjadi orang sukses.
c. Saya
pulang duluan ya, anak saya sedang menunggu di rumah.
d. “kalembo
ade” Beginilah keadaan rumah saya, semua serba kosong.
Contoh yang pertama,
lawan bicara menangkap makna dari penutur pertama bahwa sipenutur pertama sedang tidak punya uang. Maksud penutur
pertama dalam kalimat diatas adalah ingin meminjam uang. Ungkapan
penolakan halus yang diucapkan oleh
lawan bicara adalah “kalembo ade”. Makna dari “kalembo ade” adalah, ‘maaf saya
tidak punya cukup uang untuk membantu kamu’. Ungkapan “kalembo ade” ini cukup pendek
namun artinya sangat luas dilihat dari maksud si penutur.
Contoh yang kedua,
terjadi percakapan antara keponakan dan pamanya. Si keponakan bermaksud untuk
berpamitan dan akan pergi untuk merantau. Si paman tahu bahwa si ponakan hendak
ingin pergi merantau. Pamanya mengatakan “kalembo ade”, maksud dari “kalembo
ade” ini adalah ‘si paman meminta keponakannya untuk bekerja keras agar menjadi
orang sukses’.
Contoh ketiga, terjadi
percakapan antara dua orang, seorang ibu dan temanya. Dari contoh diatas,
temanya sudah bisa mengetahui maksud dari seorang ibu itu, bahwa dia ingin
cepat-cepat pulang karena takut anaknya menangis di rumah. Respon dari temanya itu bisa
berupa ungkapan “kalembo ade” yang artinya ‘hati-hati dijalan’. Ini merupakan afeksi atau perhatian seorang
teman kepada seorang ibu tersebut.
Contoh yang terakhir,
percakapan seorang teman yang bertamu ke
rumah kerabat. Dalam contoh terakhir ini, seorang kerabat yang mengataka “kalembo
ade” terhadap tamunya, maksud dari ungkapan kalembo ade itu bisa di maknai
sebagai ucapan maaf karena mungkin jamuan di rumahnya tidak enak atau tidak
sempurna.
Dari contoh-contoh
diatas bahwa bahasa Bima “kalembo ade” memiliki beragam makna dilihat dari
konteks pembicaraan. Habermas mengatakan (1998: 9) bahwa teori makna adalah
bagaimana meninggalkan makna dari setiap kalimat yang diucapakan dan kalimat
itu akan menjadi asumsi makna. Jadi senada seperti yang dikatakan Habermes
diatas bahwa, dari setiap kalimat yang diperbincangkan dari makna “kelembo
ade” memilki makna yang berbeda-beda
manurut asumsi dan konteks pembicaraan tersebut.
Simpulan
dan Saran
Dari beberapa contoh
diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa bahasa Bima “kalembo ade” memiliki makna
yang luas dan unik yang bergantung pada maksud, tujuan dan konteks dari penutur
amsing-masing. Jika terdapat kekurangan dari tulisan ini, mohon dimaklumi
karena yang memiliki kesempurnaan hanya Allah SWT semata, saya mengharapkan
jika ada saran dan perbaikan dari para pembaca mohon dikirim ke email yang
tertera diatas.
Daftar
Pustaka
Clark, V. Eve. 2009. First Language Acquisition. New York : Cambridge University Press
Foley, W. A. 1997. Antropological Linguistic.
Massacuttes : Blackwell Publisher Inc
Habermas. Jurgen. 1998. On The Pragmatic of Communication. Cambridge. Massacuttes : The MIT
Press
Subroto. Edi. 2011. Pengantar Studi Semantik dan Pragmatik. Surakarta : Cakrawala
Media
Suhandano. 2015. LingTera vol. Mei. Leksikon Samin Sebagai Cermin Pandangan
Dunia Penuturnya. Yogyakarta : Universitas Negeri Yogyakarta Press
Yule. George. 1996. Pragmatics. Oxford University press
Tidak ada komentar:
Posting Komentar