Selasa, 11 November 2014

pendidikan politik berkarakter



Pendidikan Politik Yang Berkarakter
Saat sekarang ini pembahasan tentang politik sedang hangat dibicarakan, mulai dari level masyarakat awam hingga masyarakat modern, dari yang usia sekolah hingga pelaku politik tersebut. Politik memang sulit dipisahkan dari kehidupan masyarakat sehari-hari, karena kita hidup ini juga dengan politik. Moment ini pula saya sebagai penulis menganggap perlu mempublikasikan tulisan ini, karena keperihatinan saya sebagai warga negara indonesia yang melihat dan mengamati proses perpolitikan di Negara Indonesia tercinta ini kususnya Nusa Tenggara Barat.
Para kontestan partai politik, para calon Legislatif dari DPRD, DPRD PROVINSI hingga DPR RI sedang berkoar-koar atau lebih halusnya sedang menjaring aspirasi masyarakat dan bisa juga disebut sedang berkampanye dan turun/terjun langsung kemasyarakat, kegiatan ini saya amati adalah sebagai bentuk pendidikan politik kepada masyarakat pemilih, para calon-calon Legislalif lebih sering mengatakan “kita harus memberikan pendidikan politik kepada masyarakat” kata-kata ini tidak selaras dengan perilaku yang mereka lakukan, kebanyakan dari mereka hanya datang dan mengunjungi masyarakat pada saat mendekati pemilu saja, itu hal yang lazim terjadi di masyarakat kita. Menurut penulis hal ini salah karena akan melihirkan pendapat yang tidak baik di masyarakat pemilih, seharusnaya para calon legislatif memberikan pendidikan politik yang Berkarakter agar masyarakat betul-betul memahami esensi politik dan masyarakat tidak beranggapan bahwa politik itu adalah uang, inilah pola pikir yang harus kita rubah di masyarakat kita agar generasi penerus bangsa ini memiliki karakter dalam berpolitik. Karakter apa saja yang perlu ada pada generasi penerus bangsa dan khususnya para calon-calon Legislatif?
Jawaban di atas akan penulis uraikan beserta pengertian politik, pendidikan,  karakter dan juga pokok-pokok politik lainya.
A.    Politik secara etimologis (berasaldari bahasa Yunani: politikos, yang berarti dari, untuk, atau yang berkaitan dengan warga negara, dari bahasa Inggris; politic (adj): bijaksana, beradab, berakal, yang dipikirkan ; polite (adj) : sopan, halus, beradab, sopan santun, terpilih, yang halus budi bahasanya ; policy (noun): kebijaksanaan, haluan negara.
Adapun beberapa pengertian politik dari sudut pandang para ahli:
1.      Aristoteles mengatakan Politik adalah usaha yang ditempuh warga negara untuk mewujudkan kebaikan bersama.
2.      Hans Kelens mengatakan bahwa politik mempunyai dua arti, yaitu sebagai berikut:

a. Politik sebagai etik, yakni berkenaan dengan tujuan manusia atau individu agar tetap        hidup secara sempurna.
b. Politik sebagai teknik, yakni berkenaan dengan cara (teknik) manusia atau individu untuk mencapai tujuan.
3.      Ibnu Aqil mengatakan politik adalah hal-hal praktis yang lebih mendekati kemaslahatan bagi manusia dan lebih jauh dari kerusakan meskipun tidak digariskan oleh Rosulullah S.A.W.
Dari pemaparan dari para ahli di atas dapat kita tarik kesimpulan bahwa politik adalah suatu seni atau cara yang dilukan oleh masyarakat untuk mempengaruhi dan memperoleh kekuasaan.
Menarik untuk di amati bahwa tujuan politik itu adalah sangat mulia dimana kegiatan politik itu adalah lebih kepada pelayanan publik, akan tetapi politik itu sendiri disalah artikan atau salah penerapanya oleh oknum-oknum tertentu demi kepentingan individu ataupun kelompok.
Politik saat ini erat kaitanya dengan meperkaya diri dan kelompok, dan masyarakat pemilihpun sudah mulai mempolitisasi keadaan demi kepentinagn bersama, misalnya meminta sumbangan dana pembangunan mesjid, pembangunan panti asuhan, pembuatan baju persatuan sepak bola, bola volly dan lain sebagainya, kegiatan ini sering di manfaatkan saat moment-moment politik seperti sekarang ini, karena masyarakat beranggapan suara mereka akan lebih di dengar saat pemangku politik itu memerlukan dukungan massa. Hal inilah yang sama-sama harus kita perhatikan sebagai bentuk perubahan perilaku masyarakat terhadap perilaku para pemangku politik, seharusnya para pemangku politik tidak hanya terjun ke masyarakat saat mendekati pemilu saja, akan tetapi setiap saat dan setiap waktu harus turun ke masyarakat agar dapat mendengar langsung aspirasi-aspirasi masyarakat. Hal ini pula dapat mengakibatkan masyarakat memilih GOLPUT karena ketidakpuasan dan ketidak percayaannya kepada anggota legislatif atau pemangku politik, maka langkah yang di ambil oleh pemangku politik atau calon maupun anggota legislatif adalah memberikan pendidikan politik yang berkarakter kepada masyarakat melalui sikap, tingkah laku dan tutur kata yang baik yang bersifat terus menerus.
B. Pendikan secara Etimologis  Menurut kamus Bahasa Indonesia Kata pendidikan berasal dari kata ‘didik’ dan mendapat imbuhan ‘pe’ dan akhiran ‘an’, maka kata ini mempunyai arti proses atau cara atau perbuatan mendidik. Secara bahasa definisi pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan.

Dari pengertian pendidikan secara bahasa tersebut maka dapatlah kita memilah dari realitas politik yang ada, bahwa keberadaan kampanye dan penjaringan aspirasi massa adalah bentuk dari pendidikan politik, karena menurut hemat penulis, kegiatan kampanye dan penjaringan aspirasi massa adalah usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran, walaupun pengertian pengajaran tidak penulis spesialisasikan dalam pandangan khusus, artinya bahwa dengan berkampanye dan menjaring aspirasi massa itu sudah termasuk pengajaran, karena didalamnya sudah mengandung pesan dan ajakan yang baik kepada calon pemilih.

C. Secara etimologis, kata karakter (Inggris: character) berasal dari bahasa Yunani (Greek), yaitu charassein yang berarti “to engrave” (Ryan & Bohlin, 1999: 5). Kata “to engrave” bisa diterjemahkan mengukir, melukis, memahatkan, atau menggoreskan (Echols & Shadily, 1995: 214). karakter identik dengan kepribadian atau akhlak. Kepribadian merupakan ciri, karakteristik, atau sifat khas diri seseorang yang bersumber dari bentukan-bentukan yang diterima dari lingkungan, misalnya keluarga pada masa kecil dan bawaan sejak lahir (Doni Koesoema, 2007: 80).
Secara terminologis, makna karakter dikemukakan oleh Thomas Lickona yang mendefinisikan karakter sebagai “A reliable inner disposition to respond to situations in a morally good way.” Selanjutnya, Lickona menambahkan, “Character so conceived has three interrelated parts: moral knowing, moral feeling, and moral behavior” (Lickona, 1991: 51). Di pihak lain, Frye (2002: 2) mendefinisikan pendidikan karakter sebagai, “A national movement creating schools that foster ethical, responsible, and caring young people by modeling and teaching good character through an emphasis on universal values that we all share”. Nilai-nilai utama yang dapat dipetik dari pengertian di atas adalah:
1.        Kejujuran, yakni perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan, baik terhadap diri dan pihak lain.
2.       Kecerdasan, yakni kemampuan seseorang dalam melakukan suatu tugas secara cermat, tepat, dan cepat.
3.       Ketangguhan, yakni sikap dan perilaku pantang menyerah atau tidak pernah putus asa ketika menghadapi berbagai kesulitan dalam melaksanakan kegiatan atau tugas sehingga mampu mengatasi kesulitan tersebut dalam mencapai tujuan.
4.        Kepedulian, yakni sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah dan memperbaiki penyimpangan dan kerusakan (manusia, alam, dan tatanan) di sekitar dirinya.
Adapun beberapa pemaparan para tokoh Nasional dan mancanegara yang harus kita anuti dalam pembentukan karakter ini antara lain:

1.Bung Karno pernah mengatakan, “Bangsa ini harus dibangun dengan mendahulukan pembangunan karakter (character building) karena character building inilah yang akan membuat Indonesia menjadi bangsa yang besar, maju dan jaya serta bermartabat. Kalau character building ini tidak dilakukan, maka bangsa Indonesia akan menjadi bangsa kuli”, demikian Soemarno Soedarsono (2009) dalam bukunya “Karakter Mengantar Bangsa dari Gelap Menuju Terang”.
2. Mahatma Gandhi mengatakan hal yang sama, “Kualitas karakter adalah satu-satunya faktor penentu derajat seseorang dan bangsa”.
3. Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono menyatakan hal senada bahwa “Pembangunan watak (characterbuilding)adalah amat penting.Kita ingin membangun manusia Indonesiayangberakhlak,berbudi pekerti,danberperilaku baik.Bangsa kita ingin pula memiliki peradaban yangunggul danmulia.Bangsa yangberkarakter unggul,disamping tercermin dari moral,etika danbudi pekerti yang baik juga ditandai dengan semangat, tekat dan energi yang kuat, dengan pikiran yang positif dan sikap yang optimis, serta dengan rasa persaudaraan, persatuan dan kebersamaan yang tinggi.

Maka pendidikan politik yang berkarakter sangatlah perlu  disadari dan diterapkan oleh tokoh-tokoh politik maupun calon anggota DPR, Melalui kampanye, penjaringan aspirasi, maupun tingkah laku dan tutur kata para tokoh dan calon wakil rakyat tersebut sangat membantu dalam pembentukan politik yang berkarakter, penulis mengamati bahwa peran dan kinerja wakil rakyat tidak mencerminkan karakter wakil rakyat yang baik karena karakter yang baik itu adalah harus meliputi kejujuran, kecerdasan ketangguhan, keimanan, dan kepedulian. Jika karakter ini dimili oleh wakil rakyat maupun rakyat, maka tidak ada alasan bagi indonesia untuk tidak maju. Maka harapan penulis semoga di moment pemilihan DPR (Dewan parrwakilan Rakyat) dan Presiden nanti mampu melahirkan pemimpin-pemimpin yang berkarakter sehingga menjadikan Indonesia Negara yang Adil, Makmur dan bijaksana.

Tentang Penulis.
Nama: Arif Bulan, S.Pd
TTL: Bima, 05-08-1991
Alamat: Gili Trawangan, KLU-NTB.
No Hp: 087 763 057 310
Rekening BRI SYARIAH : 1012107068

Tidak ada komentar:

Posting Komentar