KARTU
SAKTI DARI JOKOWI-JK, MASYARAKAT DILARANG SAKIT
Jokowi memang sosok yang sangat popular, mantan
Walikota Solo selama dua periode dan mantan gubernur DKI Jakarta yang belum
menapaki satu periode kepemimpinannya ini sering membuat lawan politiknya
tercengang dan kehabisan pikiran. Lihat saja bagaimana popularitas Jokowi
melunjak saat program mobil ESEMKA, itu terbukti bahwa popularitas jokowi mampu
menyaingi Fauzi Bowo pada saat pemilihan Gubernur DKI Jakarta, yang sangat
membuat rakyat terpesona dan terkesima adalah saat Jokowi-Jk mampu mengalahkan
Prabowo-Hatta dalam pesta demokrasi lima tahunan Indonesia.
Sebelum pemilihan Legislatif dan Pilpres dimulai,
banyak dari LSI yang melakukan survei-survei terkait elektabilitas partai dan
calon presiden, dan banyak dari lembaga survey membuktikan bahwa jokowi lah Top
on the top pada saat itu, sehingga partai PDIP (Partai Demokrasi Indonesia
Perjuangan) pada saat itu mengusung nama Jokowi sebagai calon Presiden dari partai yang berlambang Banteng
bermoncong putih itu, tokoh sentral partai seperti Megawati Seokarno Putri pun
tidak mampu menyaingi elektabilitas Jokowi dan akhirnya dengan legowo
memberikan restu kepada Jokowi untuk mencalonkan diri dari partai berlambang
banteng bermoncong putih tersebut.
Hiruk pikuk perjalanan politik Jokowi sampai saat
ini masih berlanjut, sampai-sampai program unggulan Jokowi-Jk yaitu kartu
sakti, KIS (Kartu Indonesia Sehat), KIP (Kartu Indonesia Pintar) dan KKS masih
menuai Pro dan Kontra, tentu hal ini membawa opini public kearah yang tidak
menguntungkan bagi KMP (Koalisi Merah Putih) karena terkesan
menghalangi-halangi niatan baik program yang bersentuhan langsung dengan rakyat
ini.
Saya sebagai masyarakatpun merasa terganggu oleh
sikap KMP (Koalisi Merah Putih) yang
tekesan menghalangi program kartu sakti ini. Argumentasi dan kritikan
yang dilontarkan oleh para punggawa KMP (Koalisi Merah Putih) sungguh tidak
bisa diterima oleh rakyat, rakyat tidak perlu aturan yang berbelit-belit,
rakyat butuh kerja cepat dan kongkrit yang bisa dirasakan.
Dikesempatan yang berbeda Prof. Yusril Ihza Mahendra
mengatakan “masyarakat bisa marah dengan berbagai kartu yang dipromosikan dan
dibagikan presiden Jokowi, sebabnya bisa jadi kartu tersebut merugikan mereka”
(Televisi Swasta, Jumat 7/11). Didalam waktu yang berbeda pernyataan Prof.
Yusril Ihza Mahendra sebagai pakar Hukum Tata Negara pun ditanggapi oleh ketua
fraksi partai Hanura (Hati Nurani Rakyat) di Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR)
Syarifudin Sudding mengatakan “peluncuran tiga kartu sakti jokowi tidak perlu
mendapat pengesahan dari DPR. Hal itu karena penyesuaian anggaran dengan
sendirinya akan dilakukan pada saat pembahasan perubahan anggaran 2015
mendatang dan saya kira anggaran peluncuran tiga kartu sakti Jokowi-Jk sudah
memiliki payung hukum yang jelas melalui UU APBN. Tinggal dilaksanakan harusnya
dihargai dan diapresiasi. Karena dalam waktu yang relatif singkat Jokowi-Jk
bisa merealisasikan program unggulanya. Ini menunjukan bahwa pemerintah bekerja
cepat, kata sudding kepada //Republika online (ROL) sabtu (8/11).
Sudah seharusnya stake holder dari KMP (koalisi
Merah Putih) dan KIH (Koalisi Indonesia Hebat) mau membuka diri dan dan
berpikir untuk sama-sama memajukan kepentingan rakyat Indonesia bukan
kepentingan golongan atau partai, telebih lagi adanya gerakan sakit hati
terkait kekalahan pada pilpres lalu. Lepaskan masalah yang lalu, marilah tatap
wajah rakyat Indonesia 5 tahun ke depan, mau dijadikan apa Indonesia kalau elit
eksekutif dan legislatif tidak ada
senergis yang jelas, apakah program-program pro-rakyat bisa dikerjakan.
Permasalahan Negara Indonesia ini sangat kompleks,
mulai dari masalah klasik kemiskinan, kesehatan dan pendidikan. Ditambah lagi
masalah kepentingan politik yang rela menjual dan mempermainkan hak rakyat demi
memenuhi sahwat dan birahi kepentingan dan kekuasaan belaka, masalah ini
mencerminkan bahwa di Indonesia belum ada kesadaran kolektif untuk membangun
bangsa, yang ada hanyalah membangun gengsinitas dan citra personal maupun
partai yang selalu ingin meraih simpati dari rakyat demi kepentingan dan
suksesi 5 tahun mendatang.
Sementara itu melihat adanya kritikan dari berbagai
pihak, Wakil Presiden Jusuf Kalla pun angkat bicara, menurutnya penerbitan
kartu sakti oleh Jokowi-Jk dilandasi dasar hukum yang jelas. Bahkan anggaranya
sudah dialokasikan dalam APBN 2014 yang disusun oleh pemerintah SBY-Budiono.(Republika.co.id
Jakarta, kamis 6/11) sebelumnya itu Mensesneg Prof. Pratikno (Mantan Rektor
UGM) mengatakan “pembiayaan KIS (Kartu Indonesia Sehat), KIP (Kartu Indonesia Pintar)
dan KKS (Kartu Keluarga Sejahtera) saat ini menggunakan dana tanggung jawab
sosial (CSR) BUMN, bukan APBN karenanya tidak perlu menunggu pengesahan dan
persetujan DPR (Repubika.co.id Jakarta, kamis 5/11)
Sebenarnya dalam hal ini rakyat bisa menilai, mana
yang hanya retorika dan mana yang bekerja, kalau hanya beretorika kapan DPR mau
bekerja? Rapat alat kelengkapan dewan pun belum kelar di tambah lagi masalah
internal DPR, dualisme kepemimpinan atau Koalisis tandingan atau apakah namanya
itu, yang terpenting bagi kami rakyat jelata adalah Pemerintah bersama DPR
menjalankan tugas dan amanah dengan sebaik-baiknya, kalau tidak mampu
menjalankan tugas dan amanah dengan baik, turun saja biar kami yang akan
menggantikan posisi itu.
Dari beberapa argumentasi pro dan kontra terkait
masalah peluncuran kartu sakti oleh Jokowi-Jk saya mencoba memberikan masukan
kepada para penguasa dan rakyat jelata, yang pertama marilah kita sama-sama
menjunjung tinggi pancasila,yang dimana didalamnya sudah tertuang sila ke 5
yaitu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Apakah para penyelenggara
sudah adil dalam menjalankan tugasnya mengurus rakyat Indonesia keseluruhan?
Yang kedua tidakkah pemerintah dan DPR menyadari amanat Undang-undabg 1945 yang
mewajibakan Negara memberikan pendidikan dan pelayaanan kesehatan yang baik
untuk rakyat Indonesia? Apakah sepatuhya kita menyalahkan dan mengkritik
pemerintah Jokowi-Jk yang telah patuh dan taat pada pancasila dan
Undang-Undang? Lepaskan baju kepentingan politik dan pakailah baju kepentingan
rakyat Indonesia. Yang ke tiga saya mengharapkan kepada pemerintah Propinsi,
Kabupaten/kota, kecamatan dan desa agar benar-benar mendukung program kartu
sakti ini dengan mendata dengan benar rakyat yang benar-benar harus menerima
kartu sakti ini nantinya, jangan sampai terjadi lagi kesalahan pendataan
sehingga yang miskin dan tertinggal tidak mendapatkan hak mereka. Yang ke empat
saya mengajak rekan-rekan mahasiswa agar mampu berperan serta dalam mengawal
kebijakan kartu sakti ini. Dan yang terakhir saya mengajak saudara-saudara saya
yang datang dari kaum tertindas dan rakyat jelata, sudah saatnya kita bangkit
dan tidak harus lagi bergantung dari bantuan maupun kartu-kartu lagi, karena
sesungguhnya itu adalah hal yang bisa membuat kita merasa malas, karea selalu
merasa dimanjakan oleh pemerintah. justru dari program kartu sakti ini kita
mulai merubah pola pikir kita untuk mulai hidup mandiri dengan memanfaatkan
fasilitas yang sudah diberikan Negara agar kitaa mampu menjadi generasi emas
masa depan yang mampu merubah wajah murung Indonesia menjadi wajah yang penuh
keceriaan, dimana diladalamnya kehidupan yang harmonis, tanpa konflik dan
kepentingan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar