Pendidikan bukan
untuk anak petani
Saya tinggal di salah salah satu kecamatan paling ujung di
Kabupaten Bima Nusa Tenggara Barat yaitu Kecamatan Sape yang menghubungkan Nusa
Tenggra Timur dan Nusa tenggara Barat, saya dilahirkan oleh keluarga petani, mulai
dari kakek dan orang tua adalah petani, saya mempunyai lima saudara laki-laki
dan perempuan tidak satupun di antara mereka yang kuliah atau mengenyam
pendidikan sampai perguruan tinggi dan hanya saya yang melanjutkan kuliah.
Dalam kehidupan masa kecil, saya lebih banyak menghabiskan
waktu untuk membantu orang tua di sawah, masih terbayang ketika saya masih
Sekolah Dasar waktu pulang sekolah saya selalu membawa nasi untuk orang tua di
sawah, mereka tidak makan siang sebelum
saya datang membawa makanan untuk mereka, ya begitulah bentuk ketaata kepadan
orang tua serta kepada kakak-kakak saya yang membantu orang tua disawah.
Sawah adalah lapangan
bola saya waktu kecil, disana saya menghabiskan waktu bersama teman-teman kecil
saya, saya adalah anak yang ceria, tidak pernah murung, kadang-kadang nyebalin,
ya begitulah saya. Sawah adalah inspirasi bagi saya, sawah memberikan banyak pelajaran tentang hidup,
saya belajar dari padi, yang biasa di tanam oleh orang tua saya ini adalah
memiliki makna yang terkandung dari sisi kehidupan, coba kita perhatikan padi
yang belum mempunyai isi dan sudah berisi, padi yang belum mumpunyai isi
terlihat berdiri tegap dan tidak menunduk, tapi setelah padi itu tua dan
mempunyai isi yang bagus, padi itu akan menunduk, begitulah filosofi hidup yang
harus ditanamkan oleh generasi-generasi muda Indonesia, teruslah belajar dan
belajar, semakin kita berilmu semakin kita merendahkan diri, jangan sebaliknya,
semakin kita tidak mempunyai banyak ilmu, semakin kita sombong terhadap diri sendiri.
Saya berkeyakinan bahwa setiap generasi muda mempunyai
bakat, keahlian dan motivasi yang terkandung dalam diri mereka masing-masing,
begitu pula saya saat masih mencari jati diri, apasih bakat saya? Apasih
keahlian saya? Apasih motivasi saya? Jawabanya ada pada saya, ada pada
generasi emas masa depan Indonesia.
Tidak dapat terelakan lagi bahwa pada jaman sekarang ini
adalah jaman yang penuh kompetisi, entah itu di bidang science, tehnologi dan
ekonomi, saya dan kaum muda generasi emas Indonesia diharapkankan mampu
bersaing di kancah nasional maupun di kancah dunia. Kenapa tidak? Saya sudah
berkompetisi dengan baik, buktinya adalah
tulisan ini, tulisan ini telah sampai ke tangan para generasi emas
Indonesia. Mungkin tidak semua dari anda sudah pernah menulis, bahkan tulisanya
belum sampai ketangan pembaca lain, itu hal sederhana yang saya banggakan pada
diri saya sendiri. Bagaimana dengan anda para generasi emas Indonesia? Apa yang
akan anda lakukan untuk diri anda dan Indonesia?
Banyak contoh menarik yang bias kita jadikan panutan
motivasi, tidakkah anda melihat para pengemis di pinggir jalan, yang
pekerjaanya hanya meminta belas kasihan dari orang, apakah anda generasi emas
Indonesia ingin menjadikan diri anda pengemis? Meminta-minta bantuan pada Negara
lain? Ingat kita adalah generasi emas, emas itu mahal harganya, mari kita
jadikan diri kita emas agar kita mempunyai harga di mata dunia.
Memang tidaklah mudah untuk menjadi generasi emas Indonesia,
kita dilahirkan oleh proses yang panjang, masih ingatkah kita tentang Negara
Kita indonesia yang tercinta ini
terjajah oleh Belanda selama 350 Tahun? Sudah lupakah kita dengan omong kosong
jepang yang akan memberikan kemerdekaan untuk Negara kita? Padahal mereka ingin
menjajah kita, menjajah seluruh kekayaan alam yang dimiliki oleh kita. Sekarang
Indonesia sudah lama merdeka, apakah generasi emas Indonesia rela Indonesia di
jajah lagi dengan cara yang modern melalaui tehnologi dan sains? Jawabanya
tidak, kita harus berdaulat kita harus maju di bidang tehnologi dan sains. Dan
tiada lain dan tiada bukan kalaian dan kita semualah yang menjadi harapan besar
bangsa Indonesia.
Bung Karno pernah mengatakan, “berikan saya 10 pemuda yang
hebat, maka kami akan mengguncangkan dunia”. Generasi muda Indonesia telah digambarkan
oleh Bung Karno adalah generasi yang hebat, tapi sayang sepeluh pemuda yang
diminta oleh Bung karno belum terjawab sampai sekarang maka tidak salah
Indonesia masih menjadi Negara yang sedang berkembang hingga saat ini, dan itu
bukan hal yang patut dibanggakan dan juga harus terpakasa kita banggakan, saya
berkeyakinan bahwa 10 pemuda yang diminta oleh bung Karno itu adalah anda,
generasi muda yang dirindukan Bung Karno untuk mengubah Indonesia menjadi
Negara maju, Negara Indonesia jangan di ramalkan untuk menjadi Negara maju di
tahun 2045, tapi targetkanlah untuk menjadi Negara maju di tahun 2030 dan
kamilah generasi emas Indonesia yang akan mengantarkan cita-cita itu.
Sekarang ini baru saya menyadari bahwa mimpi dan cita-cita adalah gratis, coba
kita renungkan apakah kita harus membayar bila kita bermimpi terlalu tinggi?
Apakah kita harus membayar jika kita mempunyai cita-cita yang tinggi? Jawabanya
tidak, semuanya adalah gratis, jadi kenapa harus takut untuk bercita-cita yang
tinggi? Saya menanamkan itu dalam diri saya, saya harus mengejar cita-cita saya
karena itu adalah gratis.
Anak petani masuk
kuliah
Lihatlah contoh disekelilig kita, siapa yang menyangka bahwa
Chairul Tanjung adalah anak seorang Wartawan. Siapa yg menyangka Dahlan Iskan
adalah anak yatim, siapa yang menyangka Jokowi itu adalah anak tukang kayu. Dan
siapa yang menyangka bahwa Abu Rizal Bakrie adalah anak seorang petani. Dan
apakah kita tidak mampu meraih apa yag sudah mereka raih? Jawabanya pasti bias,
kita tidak ada kata tidak bias dalam hidup ini. Cobalah bandingkan apakah
semasa mereka sekolah dulu semaju seperti saat sekarang? Apakah saat itu ada
Inertnet, smartphone, dan mobil mewah? Apakah kita harus merendahkan diri di
zaman yang serba bisa dan modern ini?
Saat itu adalah detik-detik yang menegangkan bagi saya,
jutaan siswa/siswi SMA (Sekolah Menegah Atas) menunggu hasil Ujian Nasional,
singkat cerita saya pun lulus ujian nasional dengan nilai yang cukup. Kerinduan
akan masa SMA punsudah mulai terasa. Malam itu adalah malam sabtu dimana saya
mengutarakan keinginan saya untuk melanjutkan kuliah kepada bapak saya, “pak
saya ingin kuliah”, bapak menjawab “apa……kuliah? Untuk apa kuliah habiskan uang
saja. Diplomasipun terus berlanjut hingga ahirnya ayahpun menyetujui saya untuk
kuliah. Rasa sukur dan harapan mulai terpancar dari diri saya.
Disuatu pagi berangkatlah saya ke salah satu kampus swasta
yang ada di Bima Nusa Tenggara Barat, yang jauhnya sekitar 50km dari kampung
halaman saya, pagi itu hanya sang ibu yang mengantarkan saya ke stasiun Bus, bapak
tidak bias ikut karena beliau sedari subuh sudah berangkat kesawah. Akhirnya
sampailah saya di kampus tujuan dengan penuh harapan dan doa saya memasuki
kampus tersebut (STKIP BIMA) saya melihat calon mahasiswa dari berbagai
kecamatan datang untuk mendaftar sebagaian di anatara mereka datang dengan
motor yang bagus dan mewah. Saya tentu
tidak bisa menyaingi mereka karena mereka mungkin datang dari keluarga yang
mampu, sedangkan saya dari keluarga miskin yang sederhana, yang dari hasil
keringat ayah kami bisa hidup.
Hari pertama melakukan registrasi di kampus tersebut (STKIP
BIMA) sayajustru bingung mau ambil jurusan apa, akhirnya saya memutuskan untuk
mendaftar ke jurusan Pendidikan Ekonomi, satu minggu setelah mendaftar di
jurusan Pendidikan Ekonomi sayapun mengikuti seleksi berupa Tes Potensi
Akademik di kampus tersebut, setelah menjelang beberapa hari saya dinyatakan
lulus, sebenarnya pada awalnya saya
tidak suka dengan angka akhirnya saya pindah ke kampus lain di pulau lombok
yaitu STKIP HAMZANWADI SELONG, melihat tekad saya yang kuat akhirnya orang tua
saya menyetujui saya untuk pindah kampus dan mengambil jurusan Pendidikan
Bahasa Inggris.
Bahasa inggris adalah bahasa aneh yang pernah saya dengar,
dan banyak dari teman-teman saya bilang bahwa bahasa inggris adalah juga bahasa
yang aneh, entah apa yang ada dalam pikiran mereka sehingga mereka mengatakan
seperti itu. “sesuatu yang asing itu memang aneh, tapi jika kita sudah terbiasa
tidak akan menjadi aneh lagi” bahasa inggris adalah bahasa pergaulan dunia,
jadi sangat rugi bila anda tidak bisa berbahasa inggris, pandanglah kedepan
bahwa di tahun 2015 ini Indonesia menjadi bagian dari MEA (Masyarakat Ekonomi
ASEAN) dimana negara anggota bebas memasarkan produk negaranya ke Indonesia,
tidak hanya produk industri bahkan tenaga kerjapun bebas masuk ke negara
anggota, maka dari itu kita sebagai generasi Emas Indonesia harus mampu
bersaing agar tercipta cita-cita indonesia sebagai negara maju 2045.
Selama kuliah saya aktif di beberapa organisasi Intra Kampus
seperti Pengurus Himpunan Mahasiwa Program Studi (HMPS/HMJ), HIMMAH (Himpunan
Mahasiwa Nahdatul Wathan), SIMIK (Sentral Ikatan Mahasiswa Ilmiah Kampus), CMC
(Club Music Campus), BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) dan juga bergabung di beberapa
organisasi eksternal kampus seperti PMII (Pergeakan Mahasiswa Islam Indonesia)
cabang Lombok Timur dan pengurus cabang Pemuda Nahdatul wathan Bima.
Di awal masuk kuliah saya sudah menyibukan diri dengan
kegiatan organisasi selepas dari tugas dan kegiatan akademik, sampai sekarang
saya masih mengungat doktrin dari senior organisasi PMII, dia mengatakan bahwa
“kampus tidak memberikn pelajaran tentang organisasi, dan carilah pelajaran itu
diluar kampus mu” beranjak dari doktrin
itu saya mencoba membuka diri dan memasuki beberapa organisasi internel dan
ekstenal kampus, alhamdulilah saya bisa merasakan manfaat dari yang saya pernah
kerjakan sewaktu kuliah.
Saya menganggap bahwa ilmu yang dimiliki manusia itu sangata
terbatas, maka dari itu saya mencari pengalaman dan ilmu itu diberbagai
organisasi yang saya geluti itu, salah satu alasan saya masuk organisasi adalah
supaya menghindari diri dari aktifitas Hondonisme yang hanya memikirkan
kesenangan diri tampa dibarengi kesenian dan ilmu yang bermanfaat, aktifitas
hedonisme ini sering sekali sekali kita jumpai di generasi muda kita, seperti
datang kuliah sambil merokok, datang kuliah pamer HP, Motor, Mobil, pamer
pakaian mahal, itu semua adalah
aktifitas dikampus yang tiada
manfaat, maka dari itu saya menghabiskan waktu bersama kegiatan akademis dan
kegiatan organisasi agar terhindar dari praktek hedonis, saya mengajak kepada
seluruh generasi emas bangsa untuk menjauhi praktek hedonisme di kampus,
marikita rubah mainset itu dengan
mainset kearah yang lebih konstruktis, seperti membentuk kelompok-kelompok
belajar, kelompok-kelompok diskusi dan kajian, itu lebih bermanfaat dari pada
sikap hedon, Mario Teguh pernah berkata “sibukanlah diri anda dengan kegiaatan
yang bermanfaat, karena sesungguhnya orang sukses itu adalah orang-orang yang
sibuk” semoga saya daan kita semua menjadi orang yang sibuk dan sukses.
Lapar yang memotivasi
Berawal dari rasa lapar yang sangat dahsya,t saya mencoba
berpikir untuk bisa mendapatkan uang sendiri tanpa meminta kepada orang tua. saya
sangat memahami keadaan ekonomi orang tua saya, akhirnya saya mencari pekerjaan
sambilan setelah jam kuliah, saya mencoba melamar di beberapa tempat seperti
foto kopi dan warnet, mereka menolak lamaran saya, saya berpikir mungkin saya
dinilai tidak berkompeten di bidang itu, tidak lama kemudian saya melamar
pekerjaan di Warung Makan yang bernama warung surabaya, setelah diwawancara
sayapun diterima sebagai pencuci piring di warung tersebut, dihari pertama
melamar pekerjaan langsung disuruh untuk masuk kerja dan mencuci piring,
sungguh pekerjaan yang menyenangkan dan saya menikmati pekerjaan saya, sistem
penggajian saya tidak menentu tergantung pendapatan warung tersebut, kalau sepi
saya dikasih Rp.10.000, kalau ramai alhamdulilah dikasih Rp. 15.000, saya bekerja mulai dari jam 5 sore-03 pagi, ya
begitulah pekerjaan saya demi untuk mendapatkan sesuap nasi dan melanjutkan
hidup, saya bangga pada diri saya dan orang-orang yang bekerja keras demi
sesuap nasi.
Pekerjaan sampangin saya lakukan dengan senang hati walaupun
ada beberapa teman kuliah saya yang tidak senang dengan pekerjaan saya, mereka
mencemooh dan merendahkan pekerjaan saya dan ada pula yang memberikan motifasi
dan dukungan terhadap saya. Kata-kata dan cemoohan mereka tidak saya simpan
dalam hati, yang saya masih ingat adalah motivasi yang diberikan oleh mereka
yang memahami kehidupan saya. “Semanagt Rif, kamu harus bangga dengan apa yang
kamu lakukan sekarang”. “Arif orang hebat itu itu adalah orang yang melalui
proses pahit dan panjang”. “Arif, calon orang sukses itu adalah ada pada diri
kamu, pekerja keras”. Begitulah kata-kata yang masih saya ingat dari
teman-teman yang memahami keadaan saya.
Waaktu itu adalah adalah liburan semester. Liburan yang
dinanti-nanti mahasiswa untuk pulang kampung dan berkumpul dengan orang tua,
setelah sekian lama saya tidak bertemu dengan orang tua, ahirnya saya
memutuskan untuk pulang liburan dikampung halaman, dan dengan terpaksa saya
harus melepaskan pekerjaan yang saya cintai itu demi melepas rindu bersama orang
tua tercinta.
Pulang kampung bukan
untuk libur
Subuh yang cerah itu saya sampai
di stasiun Bus Bima, rasa rindu menggebu tak tertahan lagi ingin memeluk ibunda
tercinta, seorang yang dengan susah payah melahirkan, menyusui, menggendong dan
mengajarkan akhlak dan islam kini sudah di depan mata. Ibu menyambut saya
dengan mata berkaca-kaca, ya! Saya melihat dengan jelas mata ibu, saat saya
menulis ini, wajah ibu selalu terbayang, wajah yang penyayang, wajah yang
periang dan beliau adalah peri.
Tidak ada kata istrahat untuk
calon generasi emas Indonesia, sehari setelah saya sampai di kampung halaman,
saya membuka kursus bahasa inggris gratis untuk anak-anak sekolah dasar,
bertempat dirumah saya anak-anak belajar bahasa inggris, mereka sangat butuh
belajar bahasa inggris karena bahasa inggris masuk dalam bagian mata pelajaran
mereka di Sekolah Dasar, berawal dari 4 orang anak menjadi 12 orang anak yang
belajar bahasa inggris gratis, kegiatan itu saya mulai dari lingkungan
disekitar, karena tidak ada fasilitas ruangan ataupun gedung yang memadai ,
setiap sore setelah sholat asyar saya
mengajar hingga 90menit.
Begitulah langkah sederhana yang
saya lakukan untuk daerah saya, jika saya
mempunyai cukup uang, saya akan membangun pondok kursus bahasa inggris
gratis di daerah saya demi membantu kebutuhan calon generasi emas Indonesia, ya
suatu saat pasti saya akan melakukan itu demi kontribusi saya untuk daerah dan
Indonesia tercinta.
Tahun 2014 adalah tahun penuh
berkah bagi saya, berawal dari informasi kawan lama, sayapun daftar di Beasiswa
LPDP jalur Afirmasi dan alahamdulilah lulus seleksi wawancara dan LGD
(Leaderless Group Discussion) di Jogjakarta, kota pendidikan, kota Budaya dan
kota yang sangat indah, masyarakat yang ramah dan bersahabat membuat saya betah
dan ingin melanjutkan study di UGM (Universitas Gadjah Mada)
Universitas Gadjah Mada adalah
universitas terbaik di Indonesia banyak orang ingin melanjutkan study di UGM
tapi tidak banyak dari mereka bisa masuk kuliah di UGM, begitulah kampus ternama
butuh kemampuan untuk bisa masuk kuliah disini, persaingan kompetensi yang
sangat ketat membuat saya harus belajar dengan sungguh-sungguh demi untuk masuk
UGM.
Lembaga Pengelola Dana Pendidikan
(LPDP) telah memberikan jalan dan kesempatan kepada saya untuk bisa kuliah di
UGM, tentu berat bagi saya yang datang dari daerah 3T (Tertinggal, Terdepan,
Terluar) untuk bersaing masuk ke Universitas terbaik ini, tapi saya tidak
menganggap ini adalah halangan bagi saya, justru saya menjadikan ini sebagai
motivasi agar saya mampu menjadi manusia Indonesia yang kompetitif dan sekarang
(November 2014) saya sedang mengikuti Program Persiapan yang diadakan oleh LPDP
dan bertempat di PPB (Pusat Pelatihan Bahasa) Universitas Gadjah Mada, tentu
ini adalah momentum bagi saya untuk memperdalam bahasa inggris saya dan suatu
saat saya bisa melanjutkan study ke Luar Negeri.
Akhirnya saya mengucapkan
terimakasih kepada teman-teman Program Persiapan UGM, yang telah memberikan
dukungan dan motivasi kepada saya. Saya mengucapkan terimakasih banyak kepada
LPDP yang telah memberikan kesempatan bagi saya pribadi untuk mengikuti program
ini dan besar harapan saya mudah-mudahan saya lulus di Program persiapn ini.
Wallahul muwafiq walhadi
ilasyabilirrasyad, wass…war…wab.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar