Selasa, 11 November 2014

pengalaman Hidup



Pendidikan bukan untuk anak petani
Saya tinggal di salah salah satu kecamatan paling ujung di Kabupaten Bima Nusa Tenggara Barat yaitu Kecamatan Sape yang menghubungkan Nusa Tenggra Timur dan Nusa tenggara Barat, saya dilahirkan oleh keluarga petani, mulai dari kakek dan orang tua adalah petani, saya mempunyai lima saudara laki-laki dan perempuan tidak satupun di antara mereka yang kuliah atau mengenyam pendidikan sampai perguruan tinggi dan hanya saya yang melanjutkan kuliah.
Dalam kehidupan masa kecil, saya lebih banyak menghabiskan waktu untuk membantu orang tua di sawah, masih terbayang ketika saya masih Sekolah Dasar waktu pulang sekolah saya selalu membawa nasi untuk orang tua di sawah,  mereka tidak makan siang sebelum saya datang membawa makanan untuk mereka, ya begitulah bentuk ketaata kepadan orang tua serta kepada kakak-kakak saya yang membantu orang tua disawah.
Sawah  adalah lapangan bola saya waktu kecil, disana saya menghabiskan waktu bersama teman-teman kecil saya, saya adalah anak yang ceria, tidak pernah murung, kadang-kadang nyebalin, ya begitulah saya. Sawah adalah inspirasi bagi saya, sawah  memberikan banyak pelajaran tentang hidup, saya belajar dari padi, yang biasa di tanam oleh orang tua saya ini adalah memiliki makna yang terkandung dari sisi kehidupan, coba kita perhatikan padi yang belum mempunyai isi dan sudah berisi, padi yang belum mumpunyai isi terlihat berdiri tegap dan tidak menunduk, tapi setelah padi itu tua dan mempunyai isi yang bagus, padi itu akan menunduk, begitulah filosofi hidup yang harus ditanamkan oleh generasi-generasi muda Indonesia, teruslah belajar dan belajar, semakin kita berilmu semakin kita merendahkan diri, jangan sebaliknya, semakin kita tidak mempunyai banyak ilmu, semakin kita sombong terhadap diri sendiri.
Saya berkeyakinan bahwa setiap generasi muda mempunyai bakat, keahlian dan motivasi yang terkandung dalam diri mereka masing-masing, begitu pula saya saat masih mencari jati diri, apasih bakat saya? Apasih keahlian saya? Apasih motivasi saya? Jawabanya ada pada saya, ada pada generasi  emas masa depan Indonesia.
Tidak dapat terelakan lagi bahwa pada jaman sekarang ini adalah jaman yang penuh kompetisi, entah itu di bidang science, tehnologi dan ekonomi, saya dan kaum muda generasi emas Indonesia diharapkankan mampu bersaing di kancah nasional maupun di kancah dunia. Kenapa tidak? Saya sudah berkompetisi dengan baik, buktinya adalah  tulisan ini, tulisan ini telah sampai ke tangan para generasi emas Indonesia. Mungkin tidak semua dari anda sudah pernah menulis, bahkan tulisanya belum sampai ketangan pembaca lain, itu hal sederhana yang saya banggakan pada diri saya sendiri. Bagaimana dengan anda para generasi emas Indonesia? Apa yang akan anda lakukan untuk diri anda dan Indonesia?
Banyak contoh menarik yang bias kita jadikan panutan motivasi, tidakkah anda melihat para pengemis di pinggir jalan, yang pekerjaanya hanya meminta belas kasihan dari orang, apakah anda generasi emas Indonesia ingin menjadikan diri anda pengemis? Meminta-minta bantuan pada Negara lain? Ingat kita adalah generasi emas, emas itu mahal harganya, mari kita jadikan diri kita emas agar kita mempunyai harga di mata dunia.
Memang tidaklah mudah untuk menjadi generasi emas Indonesia, kita dilahirkan oleh proses yang panjang, masih ingatkah kita tentang Negara Kita indonesia  yang tercinta ini terjajah oleh Belanda selama 350 Tahun? Sudah lupakah kita dengan omong kosong jepang yang akan memberikan kemerdekaan untuk Negara kita? Padahal mereka ingin menjajah kita, menjajah seluruh kekayaan alam yang dimiliki oleh kita. Sekarang Indonesia sudah lama merdeka, apakah generasi emas Indonesia rela Indonesia di jajah lagi dengan cara yang modern melalaui tehnologi dan sains? Jawabanya tidak, kita harus berdaulat kita harus maju di bidang tehnologi dan sains. Dan tiada lain dan tiada bukan kalaian dan kita semualah yang menjadi harapan besar bangsa Indonesia.
Bung Karno pernah mengatakan, “berikan saya 10 pemuda yang hebat, maka kami akan mengguncangkan dunia”. Generasi muda Indonesia telah digambarkan oleh Bung Karno adalah generasi yang hebat, tapi sayang sepeluh pemuda yang diminta oleh Bung karno belum terjawab sampai sekarang maka tidak salah Indonesia masih menjadi Negara yang sedang berkembang hingga saat ini, dan itu bukan hal yang patut dibanggakan dan juga harus terpakasa kita banggakan, saya berkeyakinan bahwa 10 pemuda yang diminta oleh bung Karno itu adalah anda, generasi muda yang dirindukan Bung Karno untuk mengubah Indonesia menjadi Negara maju, Negara Indonesia jangan di ramalkan untuk menjadi Negara maju di tahun 2045, tapi targetkanlah untuk menjadi Negara maju di tahun 2030 dan kamilah generasi emas Indonesia yang akan mengantarkan cita-cita itu.
Sekarang ini baru saya menyadari  bahwa mimpi dan cita-cita adalah gratis, coba kita renungkan apakah kita harus membayar bila kita bermimpi terlalu tinggi? Apakah kita harus membayar jika kita mempunyai cita-cita yang tinggi? Jawabanya tidak, semuanya adalah gratis, jadi kenapa harus takut untuk bercita-cita yang tinggi? Saya menanamkan itu dalam diri saya, saya harus mengejar cita-cita saya karena itu adalah gratis.
Anak petani masuk kuliah
Lihatlah contoh disekelilig kita, siapa yang menyangka bahwa Chairul Tanjung adalah anak seorang Wartawan. Siapa yg menyangka Dahlan Iskan adalah anak yatim, siapa yang menyangka Jokowi itu adalah anak tukang kayu. Dan siapa yang menyangka bahwa Abu Rizal Bakrie adalah anak seorang petani. Dan apakah kita tidak mampu meraih apa yag sudah mereka raih? Jawabanya pasti bias, kita tidak ada kata tidak bias dalam hidup ini. Cobalah bandingkan apakah semasa mereka sekolah dulu semaju seperti saat sekarang? Apakah saat itu ada Inertnet, smartphone, dan mobil mewah? Apakah kita harus merendahkan diri di zaman yang serba bisa dan modern ini?
Saat itu adalah detik-detik yang menegangkan bagi saya, jutaan siswa/siswi SMA (Sekolah Menegah Atas) menunggu hasil Ujian Nasional, singkat cerita saya pun lulus ujian nasional dengan nilai yang cukup. Kerinduan akan masa SMA punsudah mulai terasa. Malam itu adalah malam sabtu dimana saya mengutarakan keinginan saya untuk melanjutkan kuliah kepada bapak saya, “pak saya ingin kuliah”, bapak menjawab “apa……kuliah? Untuk apa kuliah habiskan uang saja. Diplomasipun terus berlanjut hingga ahirnya ayahpun menyetujui saya untuk kuliah. Rasa sukur dan harapan mulai terpancar dari diri saya.
Disuatu pagi berangkatlah saya ke salah satu kampus swasta yang ada di Bima Nusa Tenggara Barat, yang jauhnya sekitar 50km dari kampung halaman saya, pagi itu hanya sang ibu yang mengantarkan saya ke stasiun Bus, bapak tidak bias ikut karena beliau sedari subuh sudah berangkat kesawah. Akhirnya sampailah saya di kampus tujuan dengan penuh harapan dan doa saya memasuki kampus tersebut (STKIP BIMA) saya melihat calon mahasiswa dari berbagai kecamatan datang untuk mendaftar sebagaian di anatara mereka datang dengan motor  yang bagus dan mewah. Saya tentu tidak bisa menyaingi mereka karena mereka mungkin datang dari keluarga yang mampu, sedangkan saya dari keluarga miskin yang sederhana, yang dari hasil keringat ayah kami bisa hidup.
Hari pertama melakukan registrasi di kampus tersebut (STKIP BIMA) sayajustru bingung mau ambil jurusan apa, akhirnya saya memutuskan untuk mendaftar ke jurusan Pendidikan Ekonomi, satu minggu setelah mendaftar di jurusan Pendidikan Ekonomi sayapun mengikuti seleksi berupa Tes Potensi Akademik di kampus tersebut, setelah menjelang beberapa hari saya dinyatakan lulus, sebenarnya pada awalnya  saya tidak suka dengan angka akhirnya saya pindah ke kampus lain di pulau lombok yaitu STKIP HAMZANWADI SELONG, melihat tekad saya yang kuat akhirnya orang tua saya menyetujui saya untuk pindah kampus dan mengambil jurusan Pendidikan Bahasa Inggris.
Bahasa inggris adalah bahasa aneh yang pernah saya dengar, dan banyak dari teman-teman saya bilang bahwa bahasa inggris adalah juga bahasa yang aneh, entah apa yang ada dalam pikiran mereka sehingga mereka mengatakan seperti itu. “sesuatu yang asing itu memang aneh, tapi jika kita sudah terbiasa tidak akan menjadi aneh lagi” bahasa inggris adalah bahasa pergaulan dunia, jadi sangat rugi bila anda tidak bisa berbahasa inggris, pandanglah kedepan bahwa di tahun 2015 ini Indonesia menjadi bagian dari MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN) dimana negara anggota bebas memasarkan produk negaranya ke Indonesia, tidak hanya produk industri bahkan tenaga kerjapun bebas masuk ke negara anggota, maka dari itu kita sebagai generasi Emas Indonesia harus mampu bersaing agar tercipta cita-cita indonesia sebagai negara maju 2045.
Selama kuliah saya aktif di beberapa organisasi Intra Kampus seperti Pengurus Himpunan Mahasiwa Program Studi (HMPS/HMJ), HIMMAH (Himpunan Mahasiwa Nahdatul Wathan), SIMIK (Sentral Ikatan Mahasiswa Ilmiah Kampus), CMC (Club Music Campus), BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) dan juga bergabung di beberapa organisasi eksternal kampus seperti PMII (Pergeakan Mahasiswa Islam Indonesia) cabang Lombok Timur dan pengurus cabang Pemuda Nahdatul wathan Bima.
Di awal masuk kuliah saya sudah menyibukan diri dengan kegiatan organisasi selepas dari tugas dan kegiatan akademik, sampai sekarang saya masih mengungat doktrin dari senior organisasi PMII, dia mengatakan bahwa “kampus tidak memberikn pelajaran tentang organisasi, dan carilah pelajaran itu diluar kampus mu”  beranjak dari doktrin itu saya mencoba membuka diri dan memasuki beberapa organisasi internel dan ekstenal kampus, alhamdulilah saya bisa merasakan manfaat dari yang saya pernah kerjakan sewaktu kuliah.
Saya menganggap bahwa ilmu yang dimiliki manusia itu sangata terbatas, maka dari itu saya mencari pengalaman dan ilmu itu diberbagai organisasi yang saya geluti itu, salah satu alasan saya masuk organisasi adalah supaya menghindari diri dari aktifitas Hondonisme yang hanya memikirkan kesenangan diri tampa dibarengi kesenian dan ilmu yang bermanfaat, aktifitas hedonisme ini sering sekali sekali kita jumpai di generasi muda kita, seperti datang kuliah sambil merokok, datang kuliah pamer HP, Motor, Mobil, pamer pakaian mahal, itu semua adalah  aktifitas  dikampus yang tiada manfaat, maka dari itu saya menghabiskan waktu bersama kegiatan akademis dan kegiatan organisasi agar terhindar dari praktek hedonis, saya mengajak kepada seluruh generasi emas bangsa untuk menjauhi praktek hedonisme di kampus, marikita rubah mainset itu  dengan mainset kearah yang lebih konstruktis, seperti membentuk kelompok-kelompok belajar, kelompok-kelompok diskusi dan kajian, itu lebih bermanfaat dari pada sikap hedon, Mario Teguh pernah berkata “sibukanlah diri anda dengan kegiaatan yang bermanfaat, karena sesungguhnya orang sukses itu adalah orang-orang yang sibuk” semoga saya daan kita semua menjadi orang yang sibuk dan sukses.
Lapar yang memotivasi
Berawal dari rasa lapar yang sangat dahsya,t saya mencoba berpikir untuk bisa mendapatkan uang sendiri tanpa meminta kepada orang tua. saya sangat memahami keadaan ekonomi orang tua saya, akhirnya saya mencari pekerjaan sambilan setelah jam kuliah, saya mencoba melamar di beberapa tempat seperti foto kopi dan warnet, mereka menolak lamaran saya, saya berpikir mungkin saya dinilai tidak berkompeten di bidang itu, tidak lama kemudian saya melamar pekerjaan di Warung Makan yang bernama warung surabaya, setelah diwawancara sayapun diterima sebagai pencuci piring di warung tersebut, dihari pertama melamar pekerjaan langsung disuruh untuk masuk kerja dan mencuci piring, sungguh pekerjaan yang menyenangkan dan saya menikmati pekerjaan saya, sistem penggajian saya tidak menentu tergantung pendapatan warung tersebut, kalau sepi saya dikasih Rp.10.000, kalau ramai alhamdulilah dikasih Rp. 15.000, saya  bekerja mulai dari jam 5 sore-03 pagi, ya begitulah pekerjaan saya demi untuk mendapatkan sesuap nasi dan melanjutkan hidup, saya bangga pada diri saya dan orang-orang yang bekerja keras demi sesuap nasi.
Pekerjaan sampangin saya lakukan dengan senang hati walaupun ada beberapa teman kuliah saya yang tidak senang dengan pekerjaan saya, mereka mencemooh dan merendahkan pekerjaan saya dan ada pula yang memberikan motifasi dan dukungan terhadap saya. Kata-kata dan cemoohan mereka tidak saya simpan dalam hati, yang saya masih ingat adalah motivasi yang diberikan oleh mereka yang memahami kehidupan saya. “Semanagt Rif, kamu harus bangga dengan apa yang kamu lakukan sekarang”. “Arif orang hebat itu itu adalah orang yang melalui proses pahit dan panjang”. “Arif, calon orang sukses itu adalah ada pada diri kamu, pekerja keras”. Begitulah kata-kata yang masih saya ingat dari teman-teman yang memahami keadaan saya.
Waaktu itu adalah adalah liburan semester. Liburan yang dinanti-nanti mahasiswa untuk pulang kampung dan berkumpul dengan orang tua, setelah sekian lama saya tidak bertemu dengan orang tua, ahirnya saya memutuskan untuk pulang liburan dikampung halaman, dan dengan terpaksa saya harus melepaskan pekerjaan yang saya cintai itu demi melepas rindu bersama orang tua tercinta.
Pulang kampung bukan untuk libur
Subuh yang cerah itu saya sampai di stasiun Bus Bima, rasa rindu menggebu tak tertahan lagi ingin memeluk ibunda tercinta, seorang yang dengan susah payah melahirkan, menyusui, menggendong dan mengajarkan akhlak dan islam kini sudah di depan mata. Ibu menyambut saya dengan mata berkaca-kaca, ya! Saya  melihat dengan jelas mata ibu, saat saya menulis ini, wajah ibu selalu terbayang, wajah yang penyayang, wajah yang periang dan beliau adalah peri.
Tidak ada kata istrahat untuk calon generasi emas Indonesia, sehari setelah saya sampai di kampung halaman, saya membuka kursus bahasa inggris gratis untuk anak-anak sekolah dasar, bertempat dirumah saya anak-anak belajar bahasa inggris, mereka sangat butuh belajar bahasa inggris karena bahasa inggris masuk dalam bagian mata pelajaran mereka di Sekolah Dasar, berawal dari 4 orang anak menjadi 12 orang anak yang belajar bahasa inggris gratis, kegiatan itu saya mulai dari lingkungan disekitar, karena tidak ada fasilitas ruangan ataupun gedung yang memadai , setiap sore  setelah sholat asyar saya mengajar hingga 90menit.
Begitulah langkah sederhana yang saya lakukan untuk daerah saya, jika saya  mempunyai cukup uang, saya akan membangun pondok kursus bahasa inggris gratis di daerah saya demi membantu kebutuhan calon generasi emas Indonesia, ya suatu saat pasti saya akan melakukan itu demi kontribusi saya untuk daerah dan Indonesia tercinta.
Tahun 2014 adalah tahun penuh berkah bagi saya, berawal dari informasi kawan lama, sayapun daftar di Beasiswa LPDP jalur Afirmasi dan alahamdulilah lulus seleksi wawancara dan LGD (Leaderless Group Discussion) di Jogjakarta, kota pendidikan, kota Budaya dan kota yang sangat indah, masyarakat yang ramah dan bersahabat membuat saya betah dan ingin melanjutkan study di UGM (Universitas Gadjah Mada)
Universitas Gadjah Mada adalah universitas terbaik di Indonesia banyak orang ingin melanjutkan study di UGM tapi tidak banyak dari mereka bisa masuk kuliah di UGM, begitulah kampus ternama butuh kemampuan untuk bisa masuk kuliah disini, persaingan kompetensi yang sangat ketat membuat saya harus belajar dengan sungguh-sungguh demi untuk masuk UGM.
Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) telah memberikan jalan dan kesempatan kepada saya untuk bisa kuliah di UGM, tentu berat bagi saya yang datang dari daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, Terluar) untuk bersaing masuk ke Universitas terbaik ini, tapi saya tidak menganggap ini adalah halangan bagi saya, justru saya menjadikan ini sebagai motivasi agar saya mampu menjadi manusia Indonesia yang kompetitif dan sekarang (November 2014) saya sedang mengikuti Program Persiapan yang diadakan oleh LPDP dan bertempat di PPB (Pusat Pelatihan Bahasa) Universitas Gadjah Mada, tentu ini adalah momentum bagi saya untuk memperdalam bahasa inggris saya dan suatu saat saya bisa melanjutkan study ke Luar Negeri.
Akhirnya saya mengucapkan terimakasih kepada teman-teman Program Persiapan UGM, yang telah memberikan dukungan dan motivasi kepada saya. Saya mengucapkan terimakasih banyak kepada LPDP yang telah memberikan kesempatan bagi saya pribadi untuk mengikuti program ini dan besar harapan saya mudah-mudahan saya lulus di Program persiapn ini.
Wallahul muwafiq walhadi ilasyabilirrasyad, wass…war…wab.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar