Selasa, 11 November 2014

pendidikan politik berkarakter



Pendidikan Politik Yang Berkarakter
Saat sekarang ini pembahasan tentang politik sedang hangat dibicarakan, mulai dari level masyarakat awam hingga masyarakat modern, dari yang usia sekolah hingga pelaku politik tersebut. Politik memang sulit dipisahkan dari kehidupan masyarakat sehari-hari, karena kita hidup ini juga dengan politik. Moment ini pula saya sebagai penulis menganggap perlu mempublikasikan tulisan ini, karena keperihatinan saya sebagai warga negara indonesia yang melihat dan mengamati proses perpolitikan di Negara Indonesia tercinta ini kususnya Nusa Tenggara Barat.
Para kontestan partai politik, para calon Legislatif dari DPRD, DPRD PROVINSI hingga DPR RI sedang berkoar-koar atau lebih halusnya sedang menjaring aspirasi masyarakat dan bisa juga disebut sedang berkampanye dan turun/terjun langsung kemasyarakat, kegiatan ini saya amati adalah sebagai bentuk pendidikan politik kepada masyarakat pemilih, para calon-calon Legislalif lebih sering mengatakan “kita harus memberikan pendidikan politik kepada masyarakat” kata-kata ini tidak selaras dengan perilaku yang mereka lakukan, kebanyakan dari mereka hanya datang dan mengunjungi masyarakat pada saat mendekati pemilu saja, itu hal yang lazim terjadi di masyarakat kita. Menurut penulis hal ini salah karena akan melihirkan pendapat yang tidak baik di masyarakat pemilih, seharusnaya para calon legislatif memberikan pendidikan politik yang Berkarakter agar masyarakat betul-betul memahami esensi politik dan masyarakat tidak beranggapan bahwa politik itu adalah uang, inilah pola pikir yang harus kita rubah di masyarakat kita agar generasi penerus bangsa ini memiliki karakter dalam berpolitik. Karakter apa saja yang perlu ada pada generasi penerus bangsa dan khususnya para calon-calon Legislatif?
Jawaban di atas akan penulis uraikan beserta pengertian politik, pendidikan,  karakter dan juga pokok-pokok politik lainya.
A.    Politik secara etimologis (berasaldari bahasa Yunani: politikos, yang berarti dari, untuk, atau yang berkaitan dengan warga negara, dari bahasa Inggris; politic (adj): bijaksana, beradab, berakal, yang dipikirkan ; polite (adj) : sopan, halus, beradab, sopan santun, terpilih, yang halus budi bahasanya ; policy (noun): kebijaksanaan, haluan negara.
Adapun beberapa pengertian politik dari sudut pandang para ahli:
1.      Aristoteles mengatakan Politik adalah usaha yang ditempuh warga negara untuk mewujudkan kebaikan bersama.
2.      Hans Kelens mengatakan bahwa politik mempunyai dua arti, yaitu sebagai berikut:

a. Politik sebagai etik, yakni berkenaan dengan tujuan manusia atau individu agar tetap        hidup secara sempurna.
b. Politik sebagai teknik, yakni berkenaan dengan cara (teknik) manusia atau individu untuk mencapai tujuan.
3.      Ibnu Aqil mengatakan politik adalah hal-hal praktis yang lebih mendekati kemaslahatan bagi manusia dan lebih jauh dari kerusakan meskipun tidak digariskan oleh Rosulullah S.A.W.
Dari pemaparan dari para ahli di atas dapat kita tarik kesimpulan bahwa politik adalah suatu seni atau cara yang dilukan oleh masyarakat untuk mempengaruhi dan memperoleh kekuasaan.
Menarik untuk di amati bahwa tujuan politik itu adalah sangat mulia dimana kegiatan politik itu adalah lebih kepada pelayanan publik, akan tetapi politik itu sendiri disalah artikan atau salah penerapanya oleh oknum-oknum tertentu demi kepentingan individu ataupun kelompok.
Politik saat ini erat kaitanya dengan meperkaya diri dan kelompok, dan masyarakat pemilihpun sudah mulai mempolitisasi keadaan demi kepentinagn bersama, misalnya meminta sumbangan dana pembangunan mesjid, pembangunan panti asuhan, pembuatan baju persatuan sepak bola, bola volly dan lain sebagainya, kegiatan ini sering di manfaatkan saat moment-moment politik seperti sekarang ini, karena masyarakat beranggapan suara mereka akan lebih di dengar saat pemangku politik itu memerlukan dukungan massa. Hal inilah yang sama-sama harus kita perhatikan sebagai bentuk perubahan perilaku masyarakat terhadap perilaku para pemangku politik, seharusnya para pemangku politik tidak hanya terjun ke masyarakat saat mendekati pemilu saja, akan tetapi setiap saat dan setiap waktu harus turun ke masyarakat agar dapat mendengar langsung aspirasi-aspirasi masyarakat. Hal ini pula dapat mengakibatkan masyarakat memilih GOLPUT karena ketidakpuasan dan ketidak percayaannya kepada anggota legislatif atau pemangku politik, maka langkah yang di ambil oleh pemangku politik atau calon maupun anggota legislatif adalah memberikan pendidikan politik yang berkarakter kepada masyarakat melalui sikap, tingkah laku dan tutur kata yang baik yang bersifat terus menerus.
B. Pendikan secara Etimologis  Menurut kamus Bahasa Indonesia Kata pendidikan berasal dari kata ‘didik’ dan mendapat imbuhan ‘pe’ dan akhiran ‘an’, maka kata ini mempunyai arti proses atau cara atau perbuatan mendidik. Secara bahasa definisi pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan.

Dari pengertian pendidikan secara bahasa tersebut maka dapatlah kita memilah dari realitas politik yang ada, bahwa keberadaan kampanye dan penjaringan aspirasi massa adalah bentuk dari pendidikan politik, karena menurut hemat penulis, kegiatan kampanye dan penjaringan aspirasi massa adalah usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran, walaupun pengertian pengajaran tidak penulis spesialisasikan dalam pandangan khusus, artinya bahwa dengan berkampanye dan menjaring aspirasi massa itu sudah termasuk pengajaran, karena didalamnya sudah mengandung pesan dan ajakan yang baik kepada calon pemilih.

C. Secara etimologis, kata karakter (Inggris: character) berasal dari bahasa Yunani (Greek), yaitu charassein yang berarti “to engrave” (Ryan & Bohlin, 1999: 5). Kata “to engrave” bisa diterjemahkan mengukir, melukis, memahatkan, atau menggoreskan (Echols & Shadily, 1995: 214). karakter identik dengan kepribadian atau akhlak. Kepribadian merupakan ciri, karakteristik, atau sifat khas diri seseorang yang bersumber dari bentukan-bentukan yang diterima dari lingkungan, misalnya keluarga pada masa kecil dan bawaan sejak lahir (Doni Koesoema, 2007: 80).
Secara terminologis, makna karakter dikemukakan oleh Thomas Lickona yang mendefinisikan karakter sebagai “A reliable inner disposition to respond to situations in a morally good way.” Selanjutnya, Lickona menambahkan, “Character so conceived has three interrelated parts: moral knowing, moral feeling, and moral behavior” (Lickona, 1991: 51). Di pihak lain, Frye (2002: 2) mendefinisikan pendidikan karakter sebagai, “A national movement creating schools that foster ethical, responsible, and caring young people by modeling and teaching good character through an emphasis on universal values that we all share”. Nilai-nilai utama yang dapat dipetik dari pengertian di atas adalah:
1.        Kejujuran, yakni perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan, baik terhadap diri dan pihak lain.
2.       Kecerdasan, yakni kemampuan seseorang dalam melakukan suatu tugas secara cermat, tepat, dan cepat.
3.       Ketangguhan, yakni sikap dan perilaku pantang menyerah atau tidak pernah putus asa ketika menghadapi berbagai kesulitan dalam melaksanakan kegiatan atau tugas sehingga mampu mengatasi kesulitan tersebut dalam mencapai tujuan.
4.        Kepedulian, yakni sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah dan memperbaiki penyimpangan dan kerusakan (manusia, alam, dan tatanan) di sekitar dirinya.
Adapun beberapa pemaparan para tokoh Nasional dan mancanegara yang harus kita anuti dalam pembentukan karakter ini antara lain:

1.Bung Karno pernah mengatakan, “Bangsa ini harus dibangun dengan mendahulukan pembangunan karakter (character building) karena character building inilah yang akan membuat Indonesia menjadi bangsa yang besar, maju dan jaya serta bermartabat. Kalau character building ini tidak dilakukan, maka bangsa Indonesia akan menjadi bangsa kuli”, demikian Soemarno Soedarsono (2009) dalam bukunya “Karakter Mengantar Bangsa dari Gelap Menuju Terang”.
2. Mahatma Gandhi mengatakan hal yang sama, “Kualitas karakter adalah satu-satunya faktor penentu derajat seseorang dan bangsa”.
3. Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono menyatakan hal senada bahwa “Pembangunan watak (characterbuilding)adalah amat penting.Kita ingin membangun manusia Indonesiayangberakhlak,berbudi pekerti,danberperilaku baik.Bangsa kita ingin pula memiliki peradaban yangunggul danmulia.Bangsa yangberkarakter unggul,disamping tercermin dari moral,etika danbudi pekerti yang baik juga ditandai dengan semangat, tekat dan energi yang kuat, dengan pikiran yang positif dan sikap yang optimis, serta dengan rasa persaudaraan, persatuan dan kebersamaan yang tinggi.

Maka pendidikan politik yang berkarakter sangatlah perlu  disadari dan diterapkan oleh tokoh-tokoh politik maupun calon anggota DPR, Melalui kampanye, penjaringan aspirasi, maupun tingkah laku dan tutur kata para tokoh dan calon wakil rakyat tersebut sangat membantu dalam pembentukan politik yang berkarakter, penulis mengamati bahwa peran dan kinerja wakil rakyat tidak mencerminkan karakter wakil rakyat yang baik karena karakter yang baik itu adalah harus meliputi kejujuran, kecerdasan ketangguhan, keimanan, dan kepedulian. Jika karakter ini dimili oleh wakil rakyat maupun rakyat, maka tidak ada alasan bagi indonesia untuk tidak maju. Maka harapan penulis semoga di moment pemilihan DPR (Dewan parrwakilan Rakyat) dan Presiden nanti mampu melahirkan pemimpin-pemimpin yang berkarakter sehingga menjadikan Indonesia Negara yang Adil, Makmur dan bijaksana.

Tentang Penulis.
Nama: Arif Bulan, S.Pd
TTL: Bima, 05-08-1991
Alamat: Gili Trawangan, KLU-NTB.
No Hp: 087 763 057 310
Rekening BRI SYARIAH : 1012107068

kartu sakti jokowi-jk. opini





KARTU SAKTI DARI JOKOWI-JK, MASYARAKAT DILARANG SAKIT
Jokowi memang sosok yang sangat popular, mantan Walikota Solo selama dua periode dan mantan gubernur DKI Jakarta yang belum menapaki satu periode kepemimpinannya ini sering membuat lawan politiknya tercengang dan kehabisan pikiran. Lihat saja bagaimana popularitas Jokowi melunjak saat program mobil ESEMKA, itu terbukti bahwa popularitas jokowi mampu menyaingi Fauzi Bowo pada saat pemilihan Gubernur DKI Jakarta, yang sangat membuat rakyat terpesona dan terkesima adalah saat Jokowi-Jk mampu mengalahkan Prabowo-Hatta dalam pesta demokrasi lima tahunan Indonesia.
Sebelum pemilihan Legislatif dan Pilpres dimulai, banyak dari LSI yang melakukan survei-survei terkait elektabilitas partai dan calon presiden, dan banyak dari lembaga survey membuktikan bahwa jokowi lah Top on the top pada saat itu, sehingga partai PDIP (Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan) pada saat itu mengusung nama Jokowi sebagai calon Presiden  dari partai yang berlambang Banteng bermoncong putih itu, tokoh sentral partai seperti Megawati Seokarno Putri pun tidak mampu menyaingi elektabilitas Jokowi dan akhirnya dengan legowo memberikan restu kepada Jokowi untuk mencalonkan diri dari partai berlambang banteng bermoncong putih tersebut.
Hiruk pikuk perjalanan politik Jokowi sampai saat ini masih berlanjut, sampai-sampai program unggulan Jokowi-Jk yaitu kartu sakti, KIS (Kartu Indonesia Sehat), KIP (Kartu Indonesia Pintar) dan KKS masih menuai Pro dan Kontra, tentu hal ini membawa opini public kearah yang tidak menguntungkan bagi KMP (Koalisi Merah Putih) karena terkesan menghalangi-halangi niatan baik program yang bersentuhan langsung dengan rakyat ini.
Saya sebagai masyarakatpun merasa terganggu oleh sikap KMP (Koalisi Merah Putih) yang  tekesan menghalangi program kartu sakti ini. Argumentasi dan kritikan yang dilontarkan oleh para punggawa KMP (Koalisi Merah Putih) sungguh tidak bisa diterima oleh rakyat, rakyat tidak perlu aturan yang berbelit-belit, rakyat butuh kerja cepat dan kongkrit yang bisa dirasakan.
Dikesempatan yang berbeda Prof. Yusril Ihza Mahendra mengatakan “masyarakat bisa marah dengan berbagai kartu yang dipromosikan dan dibagikan presiden Jokowi, sebabnya bisa jadi kartu tersebut merugikan mereka” (Televisi Swasta, Jumat 7/11). Didalam waktu yang berbeda pernyataan Prof. Yusril Ihza Mahendra sebagai pakar Hukum Tata Negara pun ditanggapi oleh ketua fraksi partai Hanura (Hati Nurani Rakyat) di Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Syarifudin Sudding mengatakan “peluncuran tiga kartu sakti jokowi tidak perlu mendapat pengesahan dari DPR. Hal itu karena penyesuaian anggaran dengan sendirinya akan dilakukan pada saat pembahasan perubahan anggaran 2015 mendatang dan saya kira anggaran peluncuran tiga kartu sakti Jokowi-Jk sudah memiliki payung hukum yang jelas melalui UU APBN. Tinggal dilaksanakan harusnya dihargai dan diapresiasi. Karena dalam waktu yang relatif singkat Jokowi-Jk bisa merealisasikan program unggulanya. Ini menunjukan bahwa pemerintah bekerja cepat, kata sudding kepada //Republika online (ROL) sabtu (8/11).
Sudah seharusnya stake holder dari KMP (koalisi Merah Putih) dan KIH (Koalisi Indonesia Hebat) mau membuka diri dan dan berpikir untuk sama-sama memajukan kepentingan rakyat Indonesia bukan kepentingan golongan atau partai, telebih lagi adanya gerakan sakit hati terkait kekalahan pada pilpres lalu. Lepaskan masalah yang lalu, marilah tatap wajah rakyat Indonesia 5 tahun ke depan, mau dijadikan apa Indonesia kalau elit eksekutif dan legislatif tidak ada  senergis yang jelas, apakah program-program pro-rakyat bisa dikerjakan.
Permasalahan Negara Indonesia ini sangat kompleks, mulai dari masalah klasik kemiskinan, kesehatan dan pendidikan. Ditambah lagi masalah kepentingan politik yang rela menjual dan mempermainkan hak rakyat demi memenuhi sahwat dan birahi kepentingan dan kekuasaan belaka, masalah ini mencerminkan bahwa di Indonesia belum ada kesadaran kolektif untuk membangun bangsa, yang ada hanyalah membangun gengsinitas dan citra personal maupun partai yang selalu ingin meraih simpati dari rakyat demi kepentingan dan suksesi 5 tahun mendatang.
Sementara itu melihat adanya kritikan dari berbagai pihak, Wakil Presiden Jusuf Kalla pun angkat bicara, menurutnya penerbitan kartu sakti oleh Jokowi-Jk dilandasi dasar hukum yang jelas. Bahkan anggaranya sudah dialokasikan dalam APBN 2014 yang disusun oleh pemerintah SBY-Budiono.(Republika.co.id Jakarta, kamis 6/11) sebelumnya itu Mensesneg Prof. Pratikno (Mantan Rektor UGM) mengatakan “pembiayaan KIS (Kartu Indonesia Sehat), KIP (Kartu Indonesia Pintar) dan KKS (Kartu Keluarga Sejahtera) saat ini menggunakan dana tanggung jawab sosial (CSR) BUMN, bukan APBN karenanya tidak perlu menunggu pengesahan dan persetujan DPR (Repubika.co.id Jakarta, kamis 5/11)
Sebenarnya dalam hal ini rakyat bisa menilai, mana yang hanya retorika dan mana yang bekerja, kalau hanya beretorika kapan DPR mau bekerja? Rapat alat kelengkapan dewan pun belum kelar di tambah lagi masalah internal DPR, dualisme kepemimpinan atau Koalisis tandingan atau apakah namanya itu, yang terpenting bagi kami rakyat jelata adalah Pemerintah bersama DPR menjalankan tugas dan amanah dengan sebaik-baiknya, kalau tidak mampu menjalankan tugas dan amanah dengan baik, turun saja biar kami yang akan menggantikan posisi itu.
Dari beberapa argumentasi pro dan kontra terkait masalah peluncuran kartu sakti oleh Jokowi-Jk saya mencoba memberikan masukan kepada para penguasa dan rakyat jelata, yang pertama marilah kita sama-sama menjunjung tinggi pancasila,yang dimana didalamnya sudah tertuang sila ke 5 yaitu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Apakah para penyelenggara sudah adil dalam menjalankan tugasnya mengurus rakyat Indonesia keseluruhan? Yang kedua tidakkah pemerintah dan DPR menyadari amanat Undang-undabg 1945 yang mewajibakan Negara memberikan pendidikan dan pelayaanan kesehatan yang baik untuk rakyat Indonesia? Apakah sepatuhya kita menyalahkan dan mengkritik pemerintah Jokowi-Jk yang telah patuh dan taat pada pancasila dan Undang-Undang? Lepaskan baju kepentingan politik dan pakailah baju kepentingan rakyat Indonesia. Yang ke tiga saya mengharapkan kepada pemerintah Propinsi, Kabupaten/kota, kecamatan dan desa agar benar-benar mendukung program kartu sakti ini dengan mendata dengan benar rakyat yang benar-benar harus menerima kartu sakti ini nantinya, jangan sampai terjadi lagi kesalahan pendataan sehingga yang miskin dan tertinggal tidak mendapatkan hak mereka. Yang ke empat saya mengajak rekan-rekan mahasiswa agar mampu berperan serta dalam mengawal kebijakan kartu sakti ini. Dan yang terakhir saya mengajak saudara-saudara saya yang datang dari kaum tertindas dan rakyat jelata, sudah saatnya kita bangkit dan tidak harus lagi bergantung dari bantuan maupun kartu-kartu lagi, karena sesungguhnya itu adalah hal yang bisa membuat kita merasa malas, karea selalu merasa dimanjakan oleh pemerintah. justru dari program kartu sakti ini kita mulai merubah pola pikir kita untuk mulai hidup mandiri dengan memanfaatkan fasilitas yang sudah diberikan Negara agar kitaa mampu menjadi generasi emas masa depan yang mampu merubah wajah murung Indonesia menjadi wajah yang penuh keceriaan, dimana diladalamnya kehidupan yang harmonis, tanpa konflik dan kepentingan.

pengalaman Hidup



Pendidikan bukan untuk anak petani
Saya tinggal di salah salah satu kecamatan paling ujung di Kabupaten Bima Nusa Tenggara Barat yaitu Kecamatan Sape yang menghubungkan Nusa Tenggra Timur dan Nusa tenggara Barat, saya dilahirkan oleh keluarga petani, mulai dari kakek dan orang tua adalah petani, saya mempunyai lima saudara laki-laki dan perempuan tidak satupun di antara mereka yang kuliah atau mengenyam pendidikan sampai perguruan tinggi dan hanya saya yang melanjutkan kuliah.
Dalam kehidupan masa kecil, saya lebih banyak menghabiskan waktu untuk membantu orang tua di sawah, masih terbayang ketika saya masih Sekolah Dasar waktu pulang sekolah saya selalu membawa nasi untuk orang tua di sawah,  mereka tidak makan siang sebelum saya datang membawa makanan untuk mereka, ya begitulah bentuk ketaata kepadan orang tua serta kepada kakak-kakak saya yang membantu orang tua disawah.
Sawah  adalah lapangan bola saya waktu kecil, disana saya menghabiskan waktu bersama teman-teman kecil saya, saya adalah anak yang ceria, tidak pernah murung, kadang-kadang nyebalin, ya begitulah saya. Sawah adalah inspirasi bagi saya, sawah  memberikan banyak pelajaran tentang hidup, saya belajar dari padi, yang biasa di tanam oleh orang tua saya ini adalah memiliki makna yang terkandung dari sisi kehidupan, coba kita perhatikan padi yang belum mempunyai isi dan sudah berisi, padi yang belum mumpunyai isi terlihat berdiri tegap dan tidak menunduk, tapi setelah padi itu tua dan mempunyai isi yang bagus, padi itu akan menunduk, begitulah filosofi hidup yang harus ditanamkan oleh generasi-generasi muda Indonesia, teruslah belajar dan belajar, semakin kita berilmu semakin kita merendahkan diri, jangan sebaliknya, semakin kita tidak mempunyai banyak ilmu, semakin kita sombong terhadap diri sendiri.
Saya berkeyakinan bahwa setiap generasi muda mempunyai bakat, keahlian dan motivasi yang terkandung dalam diri mereka masing-masing, begitu pula saya saat masih mencari jati diri, apasih bakat saya? Apasih keahlian saya? Apasih motivasi saya? Jawabanya ada pada saya, ada pada generasi  emas masa depan Indonesia.
Tidak dapat terelakan lagi bahwa pada jaman sekarang ini adalah jaman yang penuh kompetisi, entah itu di bidang science, tehnologi dan ekonomi, saya dan kaum muda generasi emas Indonesia diharapkankan mampu bersaing di kancah nasional maupun di kancah dunia. Kenapa tidak? Saya sudah berkompetisi dengan baik, buktinya adalah  tulisan ini, tulisan ini telah sampai ke tangan para generasi emas Indonesia. Mungkin tidak semua dari anda sudah pernah menulis, bahkan tulisanya belum sampai ketangan pembaca lain, itu hal sederhana yang saya banggakan pada diri saya sendiri. Bagaimana dengan anda para generasi emas Indonesia? Apa yang akan anda lakukan untuk diri anda dan Indonesia?
Banyak contoh menarik yang bias kita jadikan panutan motivasi, tidakkah anda melihat para pengemis di pinggir jalan, yang pekerjaanya hanya meminta belas kasihan dari orang, apakah anda generasi emas Indonesia ingin menjadikan diri anda pengemis? Meminta-minta bantuan pada Negara lain? Ingat kita adalah generasi emas, emas itu mahal harganya, mari kita jadikan diri kita emas agar kita mempunyai harga di mata dunia.
Memang tidaklah mudah untuk menjadi generasi emas Indonesia, kita dilahirkan oleh proses yang panjang, masih ingatkah kita tentang Negara Kita indonesia  yang tercinta ini terjajah oleh Belanda selama 350 Tahun? Sudah lupakah kita dengan omong kosong jepang yang akan memberikan kemerdekaan untuk Negara kita? Padahal mereka ingin menjajah kita, menjajah seluruh kekayaan alam yang dimiliki oleh kita. Sekarang Indonesia sudah lama merdeka, apakah generasi emas Indonesia rela Indonesia di jajah lagi dengan cara yang modern melalaui tehnologi dan sains? Jawabanya tidak, kita harus berdaulat kita harus maju di bidang tehnologi dan sains. Dan tiada lain dan tiada bukan kalaian dan kita semualah yang menjadi harapan besar bangsa Indonesia.
Bung Karno pernah mengatakan, “berikan saya 10 pemuda yang hebat, maka kami akan mengguncangkan dunia”. Generasi muda Indonesia telah digambarkan oleh Bung Karno adalah generasi yang hebat, tapi sayang sepeluh pemuda yang diminta oleh Bung karno belum terjawab sampai sekarang maka tidak salah Indonesia masih menjadi Negara yang sedang berkembang hingga saat ini, dan itu bukan hal yang patut dibanggakan dan juga harus terpakasa kita banggakan, saya berkeyakinan bahwa 10 pemuda yang diminta oleh bung Karno itu adalah anda, generasi muda yang dirindukan Bung Karno untuk mengubah Indonesia menjadi Negara maju, Negara Indonesia jangan di ramalkan untuk menjadi Negara maju di tahun 2045, tapi targetkanlah untuk menjadi Negara maju di tahun 2030 dan kamilah generasi emas Indonesia yang akan mengantarkan cita-cita itu.
Sekarang ini baru saya menyadari  bahwa mimpi dan cita-cita adalah gratis, coba kita renungkan apakah kita harus membayar bila kita bermimpi terlalu tinggi? Apakah kita harus membayar jika kita mempunyai cita-cita yang tinggi? Jawabanya tidak, semuanya adalah gratis, jadi kenapa harus takut untuk bercita-cita yang tinggi? Saya menanamkan itu dalam diri saya, saya harus mengejar cita-cita saya karena itu adalah gratis.
Anak petani masuk kuliah
Lihatlah contoh disekelilig kita, siapa yang menyangka bahwa Chairul Tanjung adalah anak seorang Wartawan. Siapa yg menyangka Dahlan Iskan adalah anak yatim, siapa yang menyangka Jokowi itu adalah anak tukang kayu. Dan siapa yang menyangka bahwa Abu Rizal Bakrie adalah anak seorang petani. Dan apakah kita tidak mampu meraih apa yag sudah mereka raih? Jawabanya pasti bias, kita tidak ada kata tidak bias dalam hidup ini. Cobalah bandingkan apakah semasa mereka sekolah dulu semaju seperti saat sekarang? Apakah saat itu ada Inertnet, smartphone, dan mobil mewah? Apakah kita harus merendahkan diri di zaman yang serba bisa dan modern ini?
Saat itu adalah detik-detik yang menegangkan bagi saya, jutaan siswa/siswi SMA (Sekolah Menegah Atas) menunggu hasil Ujian Nasional, singkat cerita saya pun lulus ujian nasional dengan nilai yang cukup. Kerinduan akan masa SMA punsudah mulai terasa. Malam itu adalah malam sabtu dimana saya mengutarakan keinginan saya untuk melanjutkan kuliah kepada bapak saya, “pak saya ingin kuliah”, bapak menjawab “apa……kuliah? Untuk apa kuliah habiskan uang saja. Diplomasipun terus berlanjut hingga ahirnya ayahpun menyetujui saya untuk kuliah. Rasa sukur dan harapan mulai terpancar dari diri saya.
Disuatu pagi berangkatlah saya ke salah satu kampus swasta yang ada di Bima Nusa Tenggara Barat, yang jauhnya sekitar 50km dari kampung halaman saya, pagi itu hanya sang ibu yang mengantarkan saya ke stasiun Bus, bapak tidak bias ikut karena beliau sedari subuh sudah berangkat kesawah. Akhirnya sampailah saya di kampus tujuan dengan penuh harapan dan doa saya memasuki kampus tersebut (STKIP BIMA) saya melihat calon mahasiswa dari berbagai kecamatan datang untuk mendaftar sebagaian di anatara mereka datang dengan motor  yang bagus dan mewah. Saya tentu tidak bisa menyaingi mereka karena mereka mungkin datang dari keluarga yang mampu, sedangkan saya dari keluarga miskin yang sederhana, yang dari hasil keringat ayah kami bisa hidup.
Hari pertama melakukan registrasi di kampus tersebut (STKIP BIMA) sayajustru bingung mau ambil jurusan apa, akhirnya saya memutuskan untuk mendaftar ke jurusan Pendidikan Ekonomi, satu minggu setelah mendaftar di jurusan Pendidikan Ekonomi sayapun mengikuti seleksi berupa Tes Potensi Akademik di kampus tersebut, setelah menjelang beberapa hari saya dinyatakan lulus, sebenarnya pada awalnya  saya tidak suka dengan angka akhirnya saya pindah ke kampus lain di pulau lombok yaitu STKIP HAMZANWADI SELONG, melihat tekad saya yang kuat akhirnya orang tua saya menyetujui saya untuk pindah kampus dan mengambil jurusan Pendidikan Bahasa Inggris.
Bahasa inggris adalah bahasa aneh yang pernah saya dengar, dan banyak dari teman-teman saya bilang bahwa bahasa inggris adalah juga bahasa yang aneh, entah apa yang ada dalam pikiran mereka sehingga mereka mengatakan seperti itu. “sesuatu yang asing itu memang aneh, tapi jika kita sudah terbiasa tidak akan menjadi aneh lagi” bahasa inggris adalah bahasa pergaulan dunia, jadi sangat rugi bila anda tidak bisa berbahasa inggris, pandanglah kedepan bahwa di tahun 2015 ini Indonesia menjadi bagian dari MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN) dimana negara anggota bebas memasarkan produk negaranya ke Indonesia, tidak hanya produk industri bahkan tenaga kerjapun bebas masuk ke negara anggota, maka dari itu kita sebagai generasi Emas Indonesia harus mampu bersaing agar tercipta cita-cita indonesia sebagai negara maju 2045.
Selama kuliah saya aktif di beberapa organisasi Intra Kampus seperti Pengurus Himpunan Mahasiwa Program Studi (HMPS/HMJ), HIMMAH (Himpunan Mahasiwa Nahdatul Wathan), SIMIK (Sentral Ikatan Mahasiswa Ilmiah Kampus), CMC (Club Music Campus), BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) dan juga bergabung di beberapa organisasi eksternal kampus seperti PMII (Pergeakan Mahasiswa Islam Indonesia) cabang Lombok Timur dan pengurus cabang Pemuda Nahdatul wathan Bima.
Di awal masuk kuliah saya sudah menyibukan diri dengan kegiatan organisasi selepas dari tugas dan kegiatan akademik, sampai sekarang saya masih mengungat doktrin dari senior organisasi PMII, dia mengatakan bahwa “kampus tidak memberikn pelajaran tentang organisasi, dan carilah pelajaran itu diluar kampus mu”  beranjak dari doktrin itu saya mencoba membuka diri dan memasuki beberapa organisasi internel dan ekstenal kampus, alhamdulilah saya bisa merasakan manfaat dari yang saya pernah kerjakan sewaktu kuliah.
Saya menganggap bahwa ilmu yang dimiliki manusia itu sangata terbatas, maka dari itu saya mencari pengalaman dan ilmu itu diberbagai organisasi yang saya geluti itu, salah satu alasan saya masuk organisasi adalah supaya menghindari diri dari aktifitas Hondonisme yang hanya memikirkan kesenangan diri tampa dibarengi kesenian dan ilmu yang bermanfaat, aktifitas hedonisme ini sering sekali sekali kita jumpai di generasi muda kita, seperti datang kuliah sambil merokok, datang kuliah pamer HP, Motor, Mobil, pamer pakaian mahal, itu semua adalah  aktifitas  dikampus yang tiada manfaat, maka dari itu saya menghabiskan waktu bersama kegiatan akademis dan kegiatan organisasi agar terhindar dari praktek hedonis, saya mengajak kepada seluruh generasi emas bangsa untuk menjauhi praktek hedonisme di kampus, marikita rubah mainset itu  dengan mainset kearah yang lebih konstruktis, seperti membentuk kelompok-kelompok belajar, kelompok-kelompok diskusi dan kajian, itu lebih bermanfaat dari pada sikap hedon, Mario Teguh pernah berkata “sibukanlah diri anda dengan kegiaatan yang bermanfaat, karena sesungguhnya orang sukses itu adalah orang-orang yang sibuk” semoga saya daan kita semua menjadi orang yang sibuk dan sukses.
Lapar yang memotivasi
Berawal dari rasa lapar yang sangat dahsya,t saya mencoba berpikir untuk bisa mendapatkan uang sendiri tanpa meminta kepada orang tua. saya sangat memahami keadaan ekonomi orang tua saya, akhirnya saya mencari pekerjaan sambilan setelah jam kuliah, saya mencoba melamar di beberapa tempat seperti foto kopi dan warnet, mereka menolak lamaran saya, saya berpikir mungkin saya dinilai tidak berkompeten di bidang itu, tidak lama kemudian saya melamar pekerjaan di Warung Makan yang bernama warung surabaya, setelah diwawancara sayapun diterima sebagai pencuci piring di warung tersebut, dihari pertama melamar pekerjaan langsung disuruh untuk masuk kerja dan mencuci piring, sungguh pekerjaan yang menyenangkan dan saya menikmati pekerjaan saya, sistem penggajian saya tidak menentu tergantung pendapatan warung tersebut, kalau sepi saya dikasih Rp.10.000, kalau ramai alhamdulilah dikasih Rp. 15.000, saya  bekerja mulai dari jam 5 sore-03 pagi, ya begitulah pekerjaan saya demi untuk mendapatkan sesuap nasi dan melanjutkan hidup, saya bangga pada diri saya dan orang-orang yang bekerja keras demi sesuap nasi.
Pekerjaan sampangin saya lakukan dengan senang hati walaupun ada beberapa teman kuliah saya yang tidak senang dengan pekerjaan saya, mereka mencemooh dan merendahkan pekerjaan saya dan ada pula yang memberikan motifasi dan dukungan terhadap saya. Kata-kata dan cemoohan mereka tidak saya simpan dalam hati, yang saya masih ingat adalah motivasi yang diberikan oleh mereka yang memahami kehidupan saya. “Semanagt Rif, kamu harus bangga dengan apa yang kamu lakukan sekarang”. “Arif orang hebat itu itu adalah orang yang melalui proses pahit dan panjang”. “Arif, calon orang sukses itu adalah ada pada diri kamu, pekerja keras”. Begitulah kata-kata yang masih saya ingat dari teman-teman yang memahami keadaan saya.
Waaktu itu adalah adalah liburan semester. Liburan yang dinanti-nanti mahasiswa untuk pulang kampung dan berkumpul dengan orang tua, setelah sekian lama saya tidak bertemu dengan orang tua, ahirnya saya memutuskan untuk pulang liburan dikampung halaman, dan dengan terpaksa saya harus melepaskan pekerjaan yang saya cintai itu demi melepas rindu bersama orang tua tercinta.
Pulang kampung bukan untuk libur
Subuh yang cerah itu saya sampai di stasiun Bus Bima, rasa rindu menggebu tak tertahan lagi ingin memeluk ibunda tercinta, seorang yang dengan susah payah melahirkan, menyusui, menggendong dan mengajarkan akhlak dan islam kini sudah di depan mata. Ibu menyambut saya dengan mata berkaca-kaca, ya! Saya  melihat dengan jelas mata ibu, saat saya menulis ini, wajah ibu selalu terbayang, wajah yang penyayang, wajah yang periang dan beliau adalah peri.
Tidak ada kata istrahat untuk calon generasi emas Indonesia, sehari setelah saya sampai di kampung halaman, saya membuka kursus bahasa inggris gratis untuk anak-anak sekolah dasar, bertempat dirumah saya anak-anak belajar bahasa inggris, mereka sangat butuh belajar bahasa inggris karena bahasa inggris masuk dalam bagian mata pelajaran mereka di Sekolah Dasar, berawal dari 4 orang anak menjadi 12 orang anak yang belajar bahasa inggris gratis, kegiatan itu saya mulai dari lingkungan disekitar, karena tidak ada fasilitas ruangan ataupun gedung yang memadai , setiap sore  setelah sholat asyar saya mengajar hingga 90menit.
Begitulah langkah sederhana yang saya lakukan untuk daerah saya, jika saya  mempunyai cukup uang, saya akan membangun pondok kursus bahasa inggris gratis di daerah saya demi membantu kebutuhan calon generasi emas Indonesia, ya suatu saat pasti saya akan melakukan itu demi kontribusi saya untuk daerah dan Indonesia tercinta.
Tahun 2014 adalah tahun penuh berkah bagi saya, berawal dari informasi kawan lama, sayapun daftar di Beasiswa LPDP jalur Afirmasi dan alahamdulilah lulus seleksi wawancara dan LGD (Leaderless Group Discussion) di Jogjakarta, kota pendidikan, kota Budaya dan kota yang sangat indah, masyarakat yang ramah dan bersahabat membuat saya betah dan ingin melanjutkan study di UGM (Universitas Gadjah Mada)
Universitas Gadjah Mada adalah universitas terbaik di Indonesia banyak orang ingin melanjutkan study di UGM tapi tidak banyak dari mereka bisa masuk kuliah di UGM, begitulah kampus ternama butuh kemampuan untuk bisa masuk kuliah disini, persaingan kompetensi yang sangat ketat membuat saya harus belajar dengan sungguh-sungguh demi untuk masuk UGM.
Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) telah memberikan jalan dan kesempatan kepada saya untuk bisa kuliah di UGM, tentu berat bagi saya yang datang dari daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, Terluar) untuk bersaing masuk ke Universitas terbaik ini, tapi saya tidak menganggap ini adalah halangan bagi saya, justru saya menjadikan ini sebagai motivasi agar saya mampu menjadi manusia Indonesia yang kompetitif dan sekarang (November 2014) saya sedang mengikuti Program Persiapan yang diadakan oleh LPDP dan bertempat di PPB (Pusat Pelatihan Bahasa) Universitas Gadjah Mada, tentu ini adalah momentum bagi saya untuk memperdalam bahasa inggris saya dan suatu saat saya bisa melanjutkan study ke Luar Negeri.
Akhirnya saya mengucapkan terimakasih kepada teman-teman Program Persiapan UGM, yang telah memberikan dukungan dan motivasi kepada saya. Saya mengucapkan terimakasih banyak kepada LPDP yang telah memberikan kesempatan bagi saya pribadi untuk mengikuti program ini dan besar harapan saya mudah-mudahan saya lulus di Program persiapn ini.
Wallahul muwafiq walhadi ilasyabilirrasyad, wass…war…wab.